Betapa Indahnya Berumah Tangga

September 7th, 2007 by srirahayu-83

Oleh : Ameeratul Jannah

Baitijannati. Ketika
melihat pasangan yang baru menikah, saya suka tersenyum. Bukan apa-apa,
saya hanya ikut merasakan kebahagiaan yang berbinar spontan dari
wajah-wajah syahdu mereka. Tangan yang saling berkaitan ketika
berjalan, tatapan-tatapan penuh makna, bahkan sirat keengganan saat
hendak berpisah. Seorang sahabat yang tadinya mahal tersenyum, setelah
menikah senyumnya selalu saja mengembang. Ketika saya tanyakan mengapa,
singkat dia berujar “Menikahlah! Nanti juga tahu
sendiri”. Aih…

Menikah adalah sunnah terbaik dari sunnah yang baik itu yang saya baca
dalam sebuah buku pernikahan. Jadi ketika seseorang menikah, sungguh ia
telah menjalankan sebuah sunnah yang di sukai Nabi. Dalam buku tersebut
dikatakan bahwa Allah hanya menyebut nabi-nabi yang menikah dalam
kitab-Nya. Hal ini menunjukkan betapa Allah menunjukkan keutamaan
pernikahan. Dalam firmannya, “Dan
diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu
istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa
tentram kepadanya, dan Dia menjadikan rasa kasih sayang diantaramu.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
bagi kalian yang berfikir.” (QS. Ar-Rum: 21).

Menikah itu Subhanallah indah, kata Almarhum ayah saya dan hanya
bisa dirasakan oleh yang sudah menjalaninya. Ketika sudah menikah,
semuanya menjadi begitu jelas, alur ibadah suami dan istri. Beliau
mengibaratkan ketika seseorang baru menikah dunia menjadi terang
benderang, saat itu kicauan burung terdengar begitu merdu. Sepoi angin
dimaknai begitu dalam, makanan yang terhidang selalu saja disantap
lezat. Mendung di langit bukan masalah besar. Seolah dunia milik mereka
saja, mengapa? karena semuanya dinikmati berdua. Hidup seperti seolah
baru dimulai, sejarah keluarga baru saja disusun.

Namun sayang tambahnya, semua itu lambat laun menguap ke angkasa
membumbung atau raib ditelan dalamnya bumi. Entahlah saat itu cinta
mereka berpendar ke mana. Seiring detik yang berloncatan, seolah cinta
mereka juga. Banyak dari pasangan yang akhirnya tidak sampai ke tujuan,
tak terhitung pasangan yang terburai kehilangan pegangan, selanjutnya
perahu mereka karam sebelum sempat berlabuh di tepian. Bercerai, sebuah
amalan yang diperbolehkan tapi sangat dibenci Allah.

Ketika Allah menjalinkan perasaan cinta diantara suami istri,
sungguh itu adalah anugerah bertubi yang harus disyukuri. Karena cinta
istri kepada suami berbuah ketaatan untuk selalu menjaga kehormatan
diri dan keluarga. Dan cinta suami kepada istri menetaskan keinginan
melindungi dan membimbingnya sepenuh hati. Lanjutnya kemudian.

Saya jadi ingat, saat itu seorang istri memarahi suaminya
habis-habisan, saya yang berada di sana merasa iba melihat sang suami
yang terdiam. Padahal ia baru saja pulang kantor, peluh masih membasah,
kesegaran pada saat pergi sama sekali tidak nampak, kelelahan begitu
lekat di wajah. Hanya karena masalah kecil, emosi istri meledak begitu
hebat. Saya kira akan terjadi “perang” hingga bermaksud mengajak
anak-anak main di belakang. Tapi ternyata di luar dugaan, suami malah
mendaratkan sun sayang penuh mesra di kening sang istri. Istrinya yang
sedang berapi-api pun padam, senyum malu-malunya mengembang kemudian
dan merdu uaranya bertutur “Maafkan Mama ya Pa..”. Gegas ia raih tangan
suami dan
mendekatkannya juga ke kening, rutinitasnya setiap kali suaminya datang.

Jauh setelah kejadian itu, saya bertanya pada sang suami kenapa ia
berbuat demikian. “Saya mencintainya, karena ia istri yang
dianugerahkan Allah, karena ia ibu dari anak-anak. Yah karena saya
mencintainya” demikian jawabannya.

Ibn Qayyim Al-Jauziah seorang ulama besar, menyebutkan bahwa cinta
mempunyai tanda-tanda. Pertama, ketika mereka saling mencintai maka
sekali saja mereka tidak akan pernah saling mengkhianati, Mereka akan
saling setia senantiasa, memberikan semua komitmen mereka.
Kedua, ketika seseorang mencintai, maka dia akan mengutamakan yang
dicintainya, seorang istri akan mengutamakan suami dalam keluarga, dan
seorang suami tentu saja akan mengutamakan istri dalam hal perlindungan
dan nafkahnya. Mereka akan sama-sama saling mengutamakan, tidak ada
yang merasa superior.
Ketiga, ketika mereka saling mencintai maka sedetikpun mereka tidak
akan mau berpisah, lubuk hatinya selalu saling terpaut. Meskipun secara
fisik berjauhan, hati mereka seolah selalu tersambung. Ada do’a
istrinya agar suami selamat dalam perjalanan dan memperoleh sukses
dalam pekerjaan. Ada tengadah jemari istri kepada Allahi supaya suami
selalu dalam perlindunganNya, tidak tergelincir. Juga ada ingatan suami
yang sedang membanting tulang meraup nafkah halal kepada istri
tercinta, sedang apakah gerangan Istrinya, lebih semangatlah ia.

Saudaraku, ketika segala sesuatunya berjalan begitu rumit dalam
sebuah rumah tangga, saat-saat cinta tidak lagi menggunung dan
menghilang seiring persoalan yang datang silih berganti. Perkenankan
saya mengingatkan lagi sebuah hadist nabi. Ada baiknya para istri dan
suami menyelami bulir-bulir nasehat berharga dari Nabi Muhammad. Salah
satu wasiat Rasulullah yang diucapkannya pada saat-saat terakhir
kehidupannya dalam peristiwa haji wada’:

“Barang siapa -diantara para suami- bersabar atas perilaku buruk
dari istrinya, maka Allah akan memberinya pahala seperti yang Allah
berikan kepada Ayyub atas kesabarannya menanggung penderitaan. Dan
barang siapa -diantara para istri- bersabar atas perilaku buruk
suaminya, maka Allah akan memberinya pahala seperti yang Allah berikan
kepada Asiah, istri fir’aun” (HR Nasa-iy dan Ibnu Majah ).

Kepada saudaraku yang baru saja menggenapkan setengah dien, Tak ada
salahnya juga untuk saudaraku yang sudah lama mencicipi asam garamnya
pernikahan, Patrikan firman Allah dalam ingatan : “…Mereka (para istri) adalah pakaian bagi kalian (para suami) dan kalian adalah pakaian bagi mereka…” (QS. Al-Baqarah:187)

Torehkan hadist ini dalam benak : “Sesungguhnya ketika seorang
suami memperhatikan istrinya dan begitu pula dengan istrinya, maka
Allah memperhatikan mereka dengan penuh rahmat, manakala suaminya
rengkuh telapak tangan istrinya dengan mesra, berguguranlah dosa-dosa
suami istri itu dari sela jemarinya” (Diriwayatkan Maisarah bin Ali
dari Ar-Rafi’ dari Abu Sa’id Alkhudzri r.a)

Kepada sahabat yang baru saja membingkai sebuah keluarga, Kepada
para pasutri yang usia rumah tangganya tidak lagi seumur jagung,
Ingatlah ketika suami mengharapkan istri berperilaku seperti Khadijah
istri Nabi, maka suami juga harus meniru perlakukan Nabi Muhammad
kepada para Istrinya. Begitu juga sebaliknya.

Perempuan yang paling mempesona adalah istri yang shalehah, istri
yang ketika suami memandangnya pasti menyejukkan mata, ketika suaminya
menuntunnya kepada kebaikan maka dengan sepenuh hati dia akan
mentaatinya, jua tatkala suami pergi maka dia akan amanah menjaga harta
dan kehormatannya. Istri yang tidak silau dengan gemerlap dunia
melainkan istri yang selalu bergegas merengkuh setiap kemilau ridha
suami.

Lelaki yang berpredikat lelaki terbaik adalah suami yang memuliakan
istrinya. Suami yang selalu dan selalu mengukirkan senyuman di wajah
istrinya. Suami yang menjadi qawwam istrinya. Suami yang begitu tangguh
mencarikan nafkah halal untuk keluarga. Suami yang tak lelah berlemah
lembut mengingatkan kesalahan istrinya. Suami yang menjadi seorang
nahkoda kapal keluarga, mengarungi samudera agar selamat menuju tepian
hakiki “Surga”. Dia memegang teguh firman Allah, “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6)

Akhirya, semuanya mudah-mudah tetap berjalan dengan semestinya.
Semua berlaku sama seperti permulaan. Tidak kurang, tidak juga
berlebihan.Meski riak-riak gelombang mengombang-ambing perahu yang
sedang dikayuh, atau karang begitu gigih berdiri menghalangi biduk
untuk sampai ketepian. Karakter suami istri demikian, Insya Allah dapat
melaluinya dengan hasil baik. Sehingga setiap butir hari yang bergulir
akan tetap indah, fajar di ufuk selalu saja tampak merekah. Keduanya
menghiasi masa dengan kesyukuran, keduanya berbahtera dengan bekal
cinta. Sama seperti syair yang digaungkan Gibran,

Bangun di fajar subuh dengan hati seringan awan
Mensyukuri hari baru penuh sinar kecintaan
Istirahat di terik siang merenungkan puncak getaran cinta
Pulang di kala senja dengan syukur penuh di rongga dada
Kemudian terlena dengan doa bagi yang tercinta dalam sanubari
Dan sebuah nyanyian kesyukuran tersungging di bibir senyuman

Semoga Allah selalu menghimpunkan kalian (yang saling mencintai
karena Allah dalam ikatan halal pernikahan) dalam kebaikan.
Mudah-mudahan Allah yang maha lembut melimpahkan kepada kalian bening
saripati cinta, cinta yang menghangati nafas keluarga, cinta yang
menyelamatkan. Semoga Allah memampukan kalian membingkai keluarga
sakinah, mawaddah, warrahmah.

Semoga Allah mematrikan helai keikhlasan di setiap gerak dalam
keluarga. Jua Allah yang maha menetapkan, mengekalkan ikatan pernikahan
tidak hanya di dunia yang serba fana tapi sampai ke sana, the real
world “Akhirat”. Mudah-mudahan kalian selamat mendayung sampai ketepian.
Allahumma Aamiin.

Barakallahu, untuk para pengantin muda. Mudah-mudahan saya mampu
mengikuti tapak kalian yang begitu berani mengambil sebuah keputusan
besar, yang begitu nyata menandakan ketaqwaan kepada Allah serta
ketaatan kepada sunnah Rasul Pilihan. Mudah-mudahan jika giliran saya
tiba, tak perlu lagi saya bertanya mengapa teman saya menjadi begitu
murah senyum. Karena mungkin saya sudah mampu menemukan jawabannya
sendiri. (www.baitijannati.wordpress.com)
__________________
Do people think that they will be left alone because they say:”We beleive,” and will not be tested.(TQS Al-Ankabut:2)

Sumber : prayoga.net

Bebalkah Hati Kita???

March 8th, 2007 by srirahayu-83

"Maaf, Pak, bisa geser
sedikit?" Seorang pemuda meminta kursi kepada seorang penumpang yang
lebih dulu duduk di bangku yang diset untuk dua orang. Penumpang
pertama, seorang bapak, nampaknya sudah duduk sejak awal sebelum pemuda
ini naik.

Bapak itu menggeser tubuhnya dengan enggan, bahkan
sepertinya ia nampak kecut. Ia memandang si pemuda yang meminta tempat
tersebut dengan separuh mata. Padahal ia tahu, bahwa kursi bus itu
untuk dua orang. Mengapa ia berniat untuk mengukuhi sendiri? Badannya
yang tambun bukan berarti ia harus memonopoli tempat, kecuali jika dia
membayar untuk dua kursi, mungkin ini urursanya lain, walau tak
sepenuhnya benar.

Sempat saya membayangkan, jika bapak itu
menjawab, "Oya, mangga, silakan!" Kemudian ia menggeser tubuhnya tanpa
ragu sehinga penumpang yang lain mendapat tempat duduk yang sama
dengannya. Lebih lanjut, seandainya si bapak bertanya –walau mungkin
untuk basa-basi– dengan muka yang senyum, "Mau ke mana, Dhe?"

Saya
kira, melakukan hal tersebut tidaklah sulit. Kehangatan itu akan
membuat penumpang yang disapa merasa lebih nyaman duduk di sampingnya.

***

Kita
sering menemukan muka-muka yang kaku melenggang di jalan atau di
keramaian. Kita juga menemukan kedzaliman-kedzaliman yang tidak
disadari seperti contoh di atas.

Seorang ibu yang dompetnya
banyak receh, tiba-tiba tertidur manakala melihat ada pengamen kecil
naik bis yang sedang ia tumpangi. Kupahami, tindakan seperti itu bukan
semata-mata karena tidak ingin memberi, tapi sudah jelas-jelas merasa
jijik dengan kedatangan pengamen itu.

Saudaraku, untuk apa harta
yang sedikit itu kita kukuhi sendiri, sedang membelanjakannya dalam
amal akan melipatgandakannya? Jangan sampai karena harta, hati kita
menjadi keras, tak pernah gemetar bila mendapat kesempatan untuk
berbuat baik.

Sesungguhnya harta kita adalah harta yang telah
kita belanjakan di jalan Allah, dan sesungguhnya rejeki kita adalah apa
yang telah masuk ke dalam perut. Kalau sudah masuk tapi itu bukan
rejeki kita, sesuatu itupun akan dimuntahkan kembali.

***

Seorang
teman pernah tersinggung ketika ada yang menyuruhnya untuk shalat.
"Shalat gak shalat adalah urusanku!" Astaghfirullah. Hati yang membatu
akan sangat sulit menerima sentuhan Illahiyah. Bila datang kepadanya
sebuah kebenaran, sama sekali hatinya tak berdesir.

Kebenaran,
saudaraku, jika boleh bertutur, tidak selalu datang dari orang yang
lebih pandai, ustadz, atau ulama. Tapi terkadang ia datang dari orang
yang kita anggap –mungkin– polos dan rendah. Jika adik kita menunjukkan
kebaikan dan kita tersinggung karena merasa digurui, maka hati-hatilah.
Terkadang penyakit hati hinggap tanpa kita sadari.

***

Tanpa
disadari, mungkin kita pernah melakukan hal-hal seperti itu. Merasa
kecut bila ada orang yang meminta duduk di sebelah kita, sedang tempat
yang tersedia terbatas, pernah merasa terganggu tatkala ada pengamen
menemui, pernah merasa tersinggung saat orang yang lebih yunior
menyampaikan kebaikan kepada kita.

Mari cepat-cepat kita
menyadarinya untuk kemudian tidak melakukan kebodohan yang sama. Mari
lembutkan dan lapangkan hati sebisa-bisa melapangkan, jangan sampai
kita menyimpan penjara di dalamnya yang kita sendiri tidak menyadari
keberadaannya.

Ceriakan hati dan tersenyumlah apabila ada
kebaikan yang datang menemui. Berikan kesempatan pada tangan kita untuk
bisa melakukan hal yang bermanfaat.


Jalan Cahaya

February 26th, 2007 by srirahayu-83


Laksana air di gurun pasir
Sejukkan jiwa yang kehausan
Di sepanjang keruh rapuhnya dunia
ku selalu merindukan belaiMu
ku ingin Kau slalu bertahta dalam kalbuku

Kau hadir di setiap hela nafasku
Hangat alirkan butiran daarahku
Betapa suci dan agung cintaMu
Tak sanggup nalarku memikirkanMu
Ku ingin Kau selalu bertahta dalam bathinku

Bimbinglah aku dalam pelukanMu
Jangan lepaskan lagi
Izinkanlah malaikat menjagaku dari kelamnya nafsu dunia
bawalah aku ke jalan cahaya terang kerajaanMu
Jadikan mimpiku jelas sempurna menyatu dalam istana surga

Kemana kapalmu kan berlabuh
di sana juga kau bermuara
Kemanapun hidupmu kau arahkan
Disanalah dermaga akhirmu
Yakinlah Dia bersemayam dalam hatimu

Sebuah Kisah….

February 21st, 2007 by srirahayu-83

Kawan, ada cerita nie. Sore itu, saya dapat kiriman sebuah kisah
dari temen satu kantor. Nah sungguh saya benar-benar ketawa banget baca kisah
itu. Eit…tapi ndak bermaksud mentertawakan kekonyolan yang terjadi. Nah ada
hikmahnya dari kisah itu bahwa kita JANGAN
PANIK
. Ini jadi pelajaran berharga buat saya. 

Terus ndak lama kemudian, saya forwardkan kisah itu ke temen-temen
lainnya. Waa…responnya beda-beda.

Ada yang malah
sedih, ada yang kaget, ada tertawa banget dengan komentar “kacau”. Ada yang Cuma
senyum, ada pula yang balik nanya “ini nyata apa lelucon”. Pokoknya reaksi
temen-temen beda-beda. 

Silahkan bagi yang mau baca kisahnya. 

Adalah
seorang pekerja Inggris yang sedang bekerja di lantai 13 sebuah gedung. Tiba-tiba
seorang berteriak-teriak, "Alfred.. Alfred… anak perempuanmu Rossie mati
krn kecelakaan… Alfred…!" 

Karena
panik, orang ini langsung loncat lewat jendela … dari lantai 13.
Ketika
dia hampir mendekati lantai 9, dia baru ingat bahwa dia tidak punya anak
perempuan bernama Rossie, setelah dia hampir mendekati lantai 5, dia baru sadar
bahwa dia belum menikah.. apalagi punya anak. Dan ketika dia hampir menyentuh
tanah.. dia baru sadar bahwa namanya bukanlah Alfred..


Begitulah kisahnya…. Lucukah atau sedih??? Hehe…

 

sebait doa kupanjatkan pada Sang Khalik, untuk keluargaku tercinta.

February 19th, 2007 by srirahayu-83

Allah, tolong tetap Engkau sematkan hidayah-Mu di dalam hati hati
hamba-Mu ini, di dalam hati bapak ibuku, di dalam hati kakak-kakakku. Tolong jaga kami. Tolong wafatkan kami dalam
keadaan iman, Islam dan husnul khotimah. Tolong mudahkan sakaratul maut
kami. Tolong ringankan azab kubur kami. Dan tolong kumpulkan kami
dengan orang-orang yang mendapat rahmat dan keridhoan-Mu di Padang
Mahsyar nanti


Amiin Allahumma Amiin


Sumber : www.eramuslim.com

Andai Dia Tahu

January 30th, 2007 by srirahayu-83

Bilakah dia tahu

Apa yang t’lah terjadi

Semenjak hari itu

Hati ini miliknya

Mungkinkah dia jatuh hati

Seperti apa yang ku rasa

Mungkinkah dia jatuh cinta

Seperti apa yang ku damba

Bilakah dia mengerti

Apa yang t’lah terjadi

Hasratku tak tertahan

Tuk dapatkan dirinya

Mungkinkah dia jatuh hati

Seperti apa yang ku rasa

Mungkin kah dia jatuh cinta

Seperti apa yang ku damba

Tuhan yakinkan dia

Tuk jatuh cinta

Hanya untukku

Andai dia tahu…

[Andai Dia Tahu, by - Kahitna]

Diantara Dua Kondisi

January 26th, 2007 by srirahayu-83

Sahabat….tahu nggak??
Saat ini saya sedang dihadapkan pada dua kondisi. “Menunggu” ataukah “Melangkah”. Subhanallah…kadangkala saat dihadapkan pada dua kondisi itu terasa juga ada kebimbangan :). Hmmm…sepertinya masih manusiawi ya :). Bimbangnya begini….pilihan pertama adalah “menunggu” dan ini masih dalam tahap ketidakpastian, blm mencapai decision yang optimum. Dan jikalau memilih “melangkah” itu pun dalam keraguan karena hati masih luar biasa berat ke pilihan pertama. Saat ini posisiku di tengah-tengah kedua kondisi tersebut. Tapi aku tetap bergerak , aku tetap berusaha dan berdo’a. Dan subhanallah…betapa sulitnya belajar ilmu ikhlas :). Sangat penuh perjuangan tuk bisa ikhlas. Semoga penantian ini mencapai masa yang tepat dan hasil terbaik. Amiin.

Ya Rabb, bimbing hamba tuk memilih yang terbaik dalam segala urusan. Jangan biarkan hamba salah dalam melangkah. Amiin Allahumma Amiin.

Renungan….

January 25th, 2007 by srirahayu-83
       

Tadi malam, sebelum tidur…saya merenungkan sesuatu hal mengenai nikmat Allah yang begitu melimpah dan kekuasaan
Allah yang teramat sangat agung.

Coba rekan2 renungkan begitu
luas kasih sayang Allah. Tanpa kita repot, Allah mendetakkan jantung
kita, aliran darah yang normal mengalir dalam tubuh kita, Memberikan
kita penglihatan,pendengaran, dan segala hal nikmat lainnya. Tapi
kenapa masih banyak diantara kita yang jarang mensyukuri nikmat Allah
dan karunia-Nya yang begitu melimpah. Semoga Allah selalu memberikan
hidayah bagi kita semua. Amiin

Lalu saya pun merenungkan tentang Maha Kuasanya Allah menciptakan manusia
yang beraneka ragam suku,ras,warna kulit, bangsa, dan agama. Coba
perhatikan sama rekan2 semuanya…bahwa suara manusia tidak ada yang sama
seorangpun…padahal di dunia ini begoitu banyak lautan manusia, lalu
wajah setiap manusia juga berbeda2, meskipun yang kembar
sekalipun..pasti ada perbedaaanya…Subhanallah…Begitu Agung kuasa Allah.

Jadi…nikmat Allah yang mana lagi yang Engkau dustakan…….

Rekan2
semuanya…disinilah kita harus pandai bermuhasabah dan pandai mengambil
pelajaran dari setiap apa yang Allah ciptakan. Sesungguhnya segala
sesuatu yang Allah ciptakan itu tidak sia-sia. Banyak hikmah yang
tersirat untuk kita ambil ibrah.

Sesungguhnya jika kamu
bersyukur, pasti akan kami tambahkan nikmat kepadamu. Dan jika kamu
mengingkari nikmat-Ku, sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. (QS.Ibrahim:7)

Yuk…kita jadikan diri kita sebagai hamba-Nya yang pandai bersyukur.

cheer
-Sri Rahayu Suryadi-

Unegh..Unegh…hari ini :)

January 22nd, 2007 by srirahayu-83

Sejak kecil saya dibiasain tuk berani minta maaf duluan atas semua kesalahan. Entah itu kesalahan kecil apalagi tuk kesalahan besar. Prinsip saya "Jangan pernah gengsi tuk minta maaf duluan atas kekhilafan".

Terus satu hal, saya lebih terbuka membicarakan langsung hal2 yang ga nyaman dalam suatu silaturahmi. Saya biasakan mengelompokan mana hal2 yang masih dapat ditoleransi dan tidak, mana yang nyaman dan tidak, mana yang perlu tegas atau bisa fleksibel. Intinya komunikasi yang baik dengan saran dan kritik demi kebaikan.

Dan bagi saya, Seni yang paling baik dalam bersilaturahmi adalah banyak-banyak untuk mengingat dan mengakui kekurangan dan kesalahan sendiri.

"Be Your Self" juga salah satu prinsip saya. Karena Diri ini akan sengsara bila selalu menginginkan orang lain menilai lebih dari kenyataan. Jadilah manusia merdeka yang berani tampil apa adanya. Saya baca kutipan nasihat bijak seperti ini " Orang yang sibuk membangun topeng akan selalu dijajah oleh topengnya sendiri. Orang yang membangun pribadi tak gentar kehilangan topeng".

Friends, kita sama2 yuk tuk bisa komitmen dengan prinsip yang membawa kebaikan buat diri pribadi dan orang lain.

Segini dulu ajah deh unegh2 hari ini :D

Ruang Rindu by Letto

January 22nd, 2007 by srirahayu-83

Di daun yang ikut mengalir lembut
terbawa sungai ke ujung mata
dan aku mulai takut terbawa cinta
menghirup rindu yang sesakkan dada

jalanku hampa dan kusentuh dia
terasa hangat oh didalam hati
kupegang erat dan kuhalangi waktu
tak urung jua kulihatnya pergi

tak pernah kuragu dan slalu kuingat
kerlingan matamu dan sentuhan hangat
ku saat itu takut mencari makna
tumbuhkan rasa yg sesakkan dada

(*)
kau datang dan pergi oh begitu saja
smua kutrima apa adanya
mata terpejam dan hati menggumam
di ruang rindu kita bertemu ..

bertemu