Keberartian Diri
Thursday, June 22nd, 2006Pernahkah engkau
memperhatikan orang-orang di sekelilingmu saat berada di terminal? Di
stasiun? Di mal? Di kereta? Di bis? Yang pasti aku sering melakukannya.
Entah mengapa, aku tak tahu. Di tempat-tempat umum.
Di mana banyak orang berlalu lalang dan berkumpul. Memandangi. Menatapi.
Seperti hari itu. Gerbong KRL Bogor-Jakarta suatu siang tidak terlalu
sesak, namun tidak juga bisa dibilang kosong. Aku iseng mengedarkan
pandang ke sekeliling, memandangi para penumpang lainnya, memandangi
para pedagang asongan yang mondar-mandir. Tak satu pun yang kukenal.
Dan tentu saja, tak ada satu pun di antara mereka yang istimewa dalam
pandangan mataku. Meskipun mungkin di antara mereka ada yang sangat
saleh atau sangat zalim. Meskipun di antara mereka ada yang sedang
bersedih atau malah berbahagia. Meskipun di antara mereka ada yang baik
atau jahat. Tak ada yang menumbuhkan perasaan tertentu kecuali kesan
sekilas: tindak-tanduk dan penampilan fisik mereka. Itu saja. Tak
lebih. Tak kurang.
Pun demikian halnya denganku. Pastilah, bagi mereka aku bukan
siapa-siapa. Bahwa misalnya aku seorang yang berprestasi, itu tak akan
berarti apa-apa bagi mereka. Bahwa misalnya aku adalah seorang yang
baik hati juga tak akan menumbuhkan salut pada mereka. Bahwa misalnya
aku tengah bersedih atau bermasalah, mereka juga tak akan peduli.
Memangnya siapa aku? Kehadiranku hanyalah selintas saja. Sesosok tubuh
bernyawa yang dijuluki manusia yang kebetulan saja hadir di sana.
Berada dalam satu tempat bersama mereka. Tak lebih. Tak kurang.
Saat-saat seperti itu sering membuatku berpikir tentang keberadaan
diri. Diriku. Dan kemudian bertanya-tanya dalam hati: Siapakah aku bagi
mereka? Dan siapakah mereka bagi saya? Dan jawabnya: I’m nobody. Aku
bukan siapa-siapa bagi mereka. Dan mereka juga bukan siapa-siapa
bagiku. Aku, siapa pun aku dan apapun yang telah kulakukan, tidaklah
memiliki arti apapun bagi mereka. Karena mereka tidak mengenalku.
Tapi tidak demikian halnya diriku bagi beberapa orang tertentu yang
dihadirkan Allah menjadi orang-orang dekatku. Keluargaku, kerabatku,
sahabat-sahabatku, teman kerjaku, tetanggaku. Orang-orang yang aku
berinteraksi dengan mereka. Orang-orang yang bersama mereka aku
menghabiskan waktu. Orang-orang yang memberikan sentuhan pada hidupku.
Orang-orang yang telah melakukan sesuatu untukku. Bagi mereka, tentunya
aku istimewa. Atau setidaknya, aku memiliki arti. Dan bagiku, mereka
pun demikian adanya. Mereka memiliki arti, istimewa dan penting bagiku.
Seperti apapun adanya mereka.
Demikian juga orang-orang yang lalu lalang di jalanan itu, meskipun
mereka bukan siapa-siapa di mataku, pastilah mereka adalah sosok-sosok
istimewa dalam kehidupan orang-orang dekat mereka: keluarga, saudara,
dan sahabat.
Maka aku teringat sebuah kisah dalam buku cerita anak "LITTLE PRINCE"
tentang persahabatan Sang Pangeran Kecil dengan bunga mawar yang
dirawatnya sejak kecil. Suatu hari, ia pergi mengembara dan
meninggalkan bunga mawarnya di rumah. Di suatu tempat, ia menemukan
kebun mawar yang berisi ribuan tanaman mawar yang membuatnya bersedih
karena ternyata mawarnya sama saja dengan ribuan mawar di kebun itu.
Bahkan mawar-mawar baru yang ditemuinya tampak jauh lebih indah.
Tapi kemudian, sahabat barunya memberinya tahu, bahwa bagaimana pun,
mawarnya adalah lebih indah dari mawar-mawar itu. "Bunga mawarmu
mungkin hanya salah satu dari sekian juta bunga mawar yang lain di
dunia ini. Tapi bungamu sangat istimewa, unik dan sangat berharga
bagimu karena kau telah menghabiskan waktu bersamanya, engkau
menjinakkannya, engkau melakukan banyak hal untuknya. Maka kemudian
engkau mencintainya. Seperti halnya sahabatmu hanya satu dari jutaan
manusia di dunia ini, tapi, seperti apapun dia, dia yang terpenting
bagimu. Waktu yang telah kau habiskan untuk sahabatmu lah, hal-hal yang
kau lakukan untuk mereka lah yang membuat mereka istimewa bagimu."
Maka demikianlah, kebersamaan menumbuhkan ikatan emosi yang memberi
warna dalam hidup kita. Hingga karena itu, kita merasakan keberartian
diri di dunia ini. Keberartian yang akan memberi kita makna dalam hidup
kita, dalam rangka ibadah kita kepada Sang Pencipta dan dalam menjadi
wakil-Nya mengelola bumi ini.
Maka sangat dapat dimengerti, jika keberartian diri ini mewujud dalam
dien-Nya. Menjadi perintah agama dan sunnah rasul-Nya. Bahwa seorang
muslim yang paling baik adalah muslim yang paling baik pada keluarga
dan kerabatnya. Bahwa seorang muslim yang baik hendaknya bersikap baik
terhadap tetangga-tetangganya. Bahwa Allah sangat menghargai
orang-orang yang mementingkan sahabat-sahabatnya di atas kepentingan
dirinya sendiri. Bahwa rasul menyebut seorang laki-laki yang bukan dari
kalangan sahabat sebagai seorang calon penghuni surga hanya karena dia
menyimpan ketulusan terhadap orang-orang terdekatnya.
Maka, mengapakah kita tak menjaga baik-baik ‘bunga-bunga mawar
istimewa’ kita? Sedang hanya pada mereka kita mendapatkan keberartian
diri yang hakiki sekaligus pada mereka kita mendulang pahala amal dari
Ilahi?