Tatkala kita berada di depan
cermin, marilah kita bercermin dengan bertanya pada diri kita. "Hey
wajah, apakah engkau ini kelak akan bercahaya bersinar indah di surga
sana? Atau malah engkau ini akan hangus legam terbakar dalam bara
jahannam?"
Lalu, tatap mata kita, seraya bertanya, "Hei mata,
apakah engkau ini yang kelak dapat menatap penuh kelezatan dan
kerinduan, menatap Allah Yang Mahaagung, menatap keindahan surga,
menatap Rasulullah SAW, menatap para Nabi, menatap kekasih-kekasih
Allah kelak? Ataukah engkau ini yang akan terbeliak, melotot, menganga,
terburai, dan meleleh ditusuk baja membara? Akankah engkau yang
seringkali terlibat maksiat ini akan menyelamatkan? Wahai mata, apa
gerangan yang kau tatap selama ini?"
Tanyalah mulut kita ini,
"Apakah mulut ini yang diakhir hayat nanti dapat menyebut kalimat
thayyibah, Laa ilaaha illallaah? Ataukah akan menjadi mulut berbusa
yang akan menjulur julur, menjadi pemakan buah zaqum yang getir
menghanguskan, dan menghancurkan setiap usus? Atau menjadi peminum
lahar dan nanah yang panas membara? Saking terlalu banyaknya dusta,
ghibah, dan fitnah serta orang yang terluka dengan mulut kita ini…?"
"Wahai
mulut, apa gerangan yang kau ucapkan? Wahai mulut yang malang… Betapa
banyak dusta yang engkau ucapkan! Betapa banyak hati yang remuk dengan
pisau kata katamu yang mengiris tajam! Berapa banyak kata kata manis
semanis madu palsu yang engkau ucapkan untuk menipu beberapa orang?
Betapa jarangnya engkau jujur? Betapa jarangnya engkau menyebut nama
Allah dengan tulus? Betapa jarangnya engkau syahdu memohon agar Allah
mengampunimu?"
Berdialoglah dengan diri ini, "Hai… kamu ini
anak sholeh atau anak durjana? Apa saja yang telah kamu peras dari
orang tuamu selama ini? Tetapi, apa yang telah engkau berikan kepada
keduanya, selain menyakiti, membebani, dan menyusahkannya? Tidak
tahukah engkau, betapa sesungguhnya engkau adalah makhluk yang tidak
tahu membalas budi!"
"Wahai tubuh, apakah engkau kelak akan
penuh cahaya, bersinar, bersuka cita, bercengkerama di surga sana? Atau
tubuh yang akan tercabik-cabik hancur mendidih di dalam lahar jahannam,
yang akan terus terasa tanpa ampun, memikul derita tiada akhir?"
"Wahai
tubuh, berapa banyak maksiat yang engkau lakukan? Berapa banyak orang
orang yang engkau dzalimi dengan tubuhmu? Berapa banyak hamba Allah
yang lemah yang engkau tindas dengan kekuatanmu? Berapa banyak perindu
pertolonganmu yang engkau acuhkan tanpa peduli padahal engkau mampu?
Berapa pula hak-hak yang engkau rampas?"
"Wahai tubuh, seperti
apa gerangan isi hatimu? Apakah tubuhmu sebagus kata-katamu atau malah
sekelam kotoran-kotoran yang melekat di tubuhmu? Apakah hatimu segagah
ototmu atau selemah daun-daun yang mudah rontok? Apakah hatimu seindah
penampilanmu atau malah sebusuk kotoran-kotoranmu?"
Lalu
ingatlah amal-amal kita, "Hai tubuh, apakah kau ini makhluk mulia atau
menjijikkan? Berapa banyak aib-aib nista yang engkau sembunyikan
dibalik penampilanmu ini?"
"Apakah engkau ini dermawan atau si
pelit yang menyebalkan? Berapa banyak uang yang engkau nafkahkan
dijalan kebenaran? Bandingkanlah dengan yang engkau gunakan untuk
memenuhi selera rendah hawa nafsumu!"
"Apakah engkau ini
shalih atau shalihah seperti yang engkau tampakkan? Khusyukkah
shalatmu, dzikirmu, do’amu? Ikhlaskah engkau melakukan semua itu?
Jujurlah hai tubuh yang malang! Ataukah engkau ini menjadi makhluk
"riya" tukang pamer?"
Sungguh! Betapa banyak perbedaan antara
yang nampak di cermin dengan apa yang tersembunyi, betapa aku telah
tertipu oleh ‘topeng’? Betapa yang kulihat selama ini hanyalah
‘topeng’, hanyalah seonggok sampah busuk yang terbungkus
‘topeng-topeng’ duniawi .
Wahai sahabat sahabat sekalian…
Sesungguhnya saat bercermin adalah saat yang tepat agar kita dapat
mengenal dan menangisi diri ini. Semoga kita dikaruniai hati yang
istiqamah (selalu lurus) di atas kebenaran, dan semoga kelak kita
kembali kepada Allah membawa qalbun saliim, hati yang selamat. Aamiin.
Wallahu a’lam bish shawab.