Archive for July, 2006

Tiada Hidup Tanpa Ujian

Tuesday, July 25th, 2006

Tak ada hidup tanpa ujian. Hidup itu memang penuh ujian, baik ujian dalam bentuk kesenangan maupun kesusahan, suka maupun duka, kenikmatan maupun ketidaknikmatan. Persoalannya bukanlah pada ujian itu. Persoalannya bukanlah pada sesuatu yang kita anggap "masalah" itu. Persoalannya bukan apa yang menimpa kita. Tetapi persoalan sesungguhnya adalah bagaimana kita menghadapi ujian itu, memandangnya, memaknainya, menyikapinya.

Tiada obat yang lebih baik ketika menghadapi ujian selain dari sabar dan ikhtiar. Tidak perlu mencaci keadaan, atau menyesali keadaan secara berlebihan, atau stress, atau menyumpahi keadaan. Lari dari ujian, atau berusaha mencaci keadaan, tidak menerima kenyataan, bukanlah solusi, tetapi malah akan menambah masalah baru. Kembalikanlah semua yang telah terjadi kepada Allah. Sikap yang terbaik adalah mengambil hikmahnya, pelajaran berharga buat menghadapi hari esok. Lalu lanjutkan dengan ikhtiar, mengusahakan yang lebih baik ke depannya.

Tiada hidup yang tanpa ujian. Dalam konteks agama, ujian itu adalah "sunnatullah". Dengan ujian, akan diketahui siapa orang yang beriman dan siapa orang yang tidak beriman. Bagaimana kita menghadapi ujian itu, itulah yang akan menentukan nilai kita di hadapan Allah (sekali lagi nilai di hadapan Allah, bukan di hadapan manusia).

Akhirnya, alangkah lebih baiknya jika ada masalah mendera, kita mendekatkan diri kepada Allah. Bisa dengan meningkatkan kekhusyukan shalat kita, doa kita, muhasabah kita, renungan kita, introspeksi diri kita.
Mintalah ampun kepada Allah. Mintalah petunjuk kepada Allah. Kalau sungguh-sungguh dilakukan, Insya Allah Allah akan memberi petunjuk kepada kita. Wallaahu a’lam.

Ganti itu dari Allah

Tuesday, July 18th, 2006

Subhanallah…

Allah tidak pernah mencabut
sesuatu dari anda kecuali Dia menggantinya dengan yang lebih baik.
Tetapi, itu bila anda bersabar dan tetap ridha dengan segala
ketetapanNya.

Barangsiapa Ku ambil dua kekasihnya (matanya)
dan ia tetap bersabar, maka Aku akan mengganti kedua (mata)nya dengan
surga. (Al-Hadist).

Barangsiapa Kuambil orang yang dicintainya
di dunia dan ia tetap mengharapkan ridhaKu, niscaya Aku akan
menggantinya dengan surga. (Al-Hadist).

Yakni, barangsiapa kehilangan
anaknya tetap berusaha untuk bersabar maka di alam keabadian kelak akan
dibangunkan untuknya sebuah Baitul Hamd (Istana Pujian).

Maka
Anda tak usah terlalu bersedih dengan musibah yang menimpa Anda sebab
yang menentukan semua itu memiliki surga, balasan, pengganti dan
ganjaran yang besar.

Para Waliyullah yang pernah tertimpa
musibah, ujian dan cobaan akan mendapatkan penghormatan yang agung di
surga Firdaus. Itu tersirat dalam firmanNya : "Selamat atasmu karena
kesabaranmu. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu." (QS Ar-Rad :
24).

Betapapun kita selalu harus melihat dan yakin bahwa
dibalik musibah terdapat ganti dan balasan dari Allah yang akan selalu
berujung pada kebaikan kita. Dengan begitu kita akan termasuk sebagai
orang yang mendapat rahmat. "Mereka itulah yang mendapat keberkatan
yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka dan mereka itulah orang orang
yang mendapat petunjuk." (QS Al-Baqarah : 157).

Ini merupakan
ucapan selamat bagi orang orang yang mendapat musibah dan kabar gembira
bagi orang-orang yang mendapat bencana. Umur dunia ini sangat pendek
dan gudang kenikmatannya pun sangat miskin. Adapun akhirat lebih baik
dan kekal. Sehingga barangsiapa di dunia mendapat musibah ia akan
mendapat kesenangan di akhirat kelak, dan barangsiapa hidup sengsara di
dunia ia akan hidup bahagia di akhirat.

Lain halnya dengan
mereka yang memang lebih mencintai dunia hanya mendambakan kenikmatan
dunia saja dan lebih senang pada keindahan dunia. Hati mereka akan
selalu gundah gulana, cemas tidak mendapatkan kenikmatan dunia dan
takut tidak nyaman hidupnya di dunia. Mereka ini hanya mengingnkan
kenikmatan dunia saja sehingga mereka selalu memandang musibah sebagai
petaka besar yang mematikan. Mereka juga akan memandang cobaan sebagai
sesuatu yang gelap gulita selamanya. Ini adalah karena mereka selalu
memandang kearah bawah telapak kakinya dan hanya mengagungkan dunia
yang sangat fana dan tidak berharga ini.

Wahai orang-orang
yang tertimpa musibah, sesungguhnya tak ada sesuatu pun yang hilang
dari kalian. Kalian justru beruntung karena Allah selalu menurunkan
sesuatu kepada para hamba-hambaNya dengan "surat ketetapan" yang
disela-sela huruf kalimatnya terdapat suatu kelembutan, empati, pahala,
ada balasan dan juga pilihan.

Maka dari itu, siapa saja yang
tertimpa musibah yang hebat, ia harus menghadapinya dengan sabar, mata
jernih dan pola pikir yang panjang. Dengan begitu ia akan menyaksikan
bahwa buah manis dari musibah itu adalah rahmat dari Allah. "Lalu
diadakan diantara mereka dinding yang mempunyai pintu. Disebelah
dalamnya ada rahmat dan disebelah luarnya dari situ ada siksa." (QS
Al-Hadid : 13).

Dan sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah itu lebih baik, lebih abadi, lebih utama, dan lebih mulia.

Referensi : La Tahzan (Jangan Bersedih)

Berhenti Sejenak

Monday, July 17th, 2006

Kawan…
Mari kita berhenti sejenak, mengamati kembali bekas-bekas langkah kita dalam
kehidupan ini. Melihat dengan cermat apa-apa yang telah kita lakukan selama
ini. Perhatikan kawanku, sudahkah langkah-langkah kita berangkat dari tempat
yang baik? Sudah

kah
dalam perjalanannya dia berbelok di tempat-tempat yang semestinya? Dan yang
paling penting, sudahkah langkah-langkah kita menuju kepada-Nya?

Andai kita mau jujur, mungkin kita akan mampu melihat bahwa langkah-langkah
kita ternyata sering berselisih dengan kehendak-Nya. Tengoklah kehidupan kita,
sementara demikian banyak saudara kita mengais sesuap nasi, masih sering kita
biarkan butiran-butiran nasi tersisa di piring kita dan terbuang percuma.

Ketika banyak saudara kita berhutang kesana kemari, masih sering kita membeli
barang-barang mewah yang sesungguhnya tidak terlalu berguna. Ketika Allah
memerintahkan kita untuk beribadah kepada-Nya, masih sering kita lalai dan
menyibukkan diri kita dengan berbagai fasilitas yang sesungguhnya hanya
titipan-Nya.

Belum lagi jikalau kita mengingat bahwa ternyata kehidupan kita selama ini
belum berorientasi kepada-Nya. Waktu yang telah kita lewatkan ternyata lebih
banyak untuk kepentingn dunia kita. Mari tanyakan kepada diri kita : Berapa
banyak waktu telah kita gunakan untuk beribadah kepada-Nya? Berapa banyak waktu
telah kita habiskan untuk membaca firman-Nya? Berapa banyak ilmu yang telah
kita pelajari untuk meningkatkan iman kepada-Nya?

Kawan… Apakah hati-hati kita telah terlalu jauh dari-Nya? Sehingga sulit bagi
kita untuk mengingat bahwa semua yang terjadi hanyalah atas kehandak-Nya?
Sehingga sulit bagi kita menyadari bahwa semua milik kita hanya dititipkan-Nya
sementara? Apakah kita telah menjadi manusia sombong yang selalu mengalamatkan semua
kesuksesan dan keberhasilan hidup kita kepada diri kita sendiri? Jikalau rasa
itu masih ada, mari tanyakan kepada diri kita : Tak takutkah kita jika Allah
mengadzab kita atas kesombongan itu? Tak takutkah kita jika Allah menarik semua
titipan-Nya karena kita telah berkhianat kepada-Nya? Lupakah kita bahwa Allah
telah berfirman akan mengadzab orang-orang yang kufur nikmat?

Kawan… Jikalau langkah-langkah kita ternyata telah jauh dari keridhaan-Nya,
telah menyimpang dari kehendak-Nya. Maka duduklah sejenak, mari kita berhenti
dan bersiap berbelok segera sebelum semua terlambat. Allah masih demikian
sayang kepada kita dan mengizinkan kita untuk tetap menikmati kehidupan di
dunia ini. Jikalau terselip secarik keinginan untuk memohon ampun kepadanya,
bergegaslah!!! Semoga dengan kesungguhan hati kita, berbuah pada keridhaan
Allah Ta’ala. Sungguh Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan
membersihkan diri.

Kemarin, Hari ini dan Esok hari

Wednesday, July 5th, 2006

Kawan…Ada dua hari dalam hidup ini yang sama sekali tak perlu kita
khawatirkan.

Yang pertama : hari kemarin, Kita tak bisa mengubah apa pun yang telah terjadi. Kita
tak bisa menarik perkataan yang telah terucapkan. Kita tak mungkin lagi
menghapus kesalahan; dan mengulangi kegembiraan yang kita rasakan kemarin.
Biarkan hari kemarin lewat; lepaskan saja.

Yang
kedua : hari esok.
Hingga mentari esok
hari terbit, Kita tak tahu apa yang akan terjadi. Kita tak bisa melakukan
apa-apa esok hari. Kita tak mungkin sedih atau ceria di esok hari. Esok hari
belum tiba; biarkan saja.

Yang
tersisa kini hanyalah hari ini
.
Pintu masa lalu telah tertutup; pintu masa depan pun
belum tiba.

Pusatkan
saja diri Kita untuk hari ini. Kita dapat mengerjakan lebih banyak hal hari ini
bila kita mampu memaafkan hari kemarin dan melepaskan ketakutan akan esok hari.
Hiduplah hari ini. Karena, masa lalu dan masa depan hanyalah permainan pikiran
yang rumit. Hiduplah apa adanya. Karena yang ada hanyalah hari ini; hari ini
yang abadi.


Mari kita perbaiki kekurangan kita di hari kemarin dan kita sonsong hari esok
dengan penambahan kualitas ibadah kita. Semoga amal ibadah kita hari ini lebih
baik dari hari kemarin, dan berusalah agar amal ibadah kita di hari esok akan
lebih baik dari hari ini

Jangan Tangisi Apa yang Bukan Milikmu

Tuesday, July 4th, 2006

Dalam perjalanan hidup ini
seringkali kita merasa kecewa. Kecewa sekali. Sesuatu yang luput dari
genggaman, keinginan yang tidak tercapai, kenyataan yang tidak sesuai
harapan. Akhirnya angan ini lelah berandai-andai ria. Sungguh semua itu
telah hadirkan nelangsa yang begitu menggelora dalam jiwa.

Dan
sungguh sangat beruntung andai dalam saat-saat terguncangnya jiwa masih
ada setitik cahaya dalam kalbu untuk merenungi kebenaran. Masih ada
kekuatan untuk melangkahkan kaki menuju majelis-majelis ilmu,
majelis-majelis dzikir yang akan mengantarkan pada ketentraman jiwa.

Hidup
ini ibarat belantara. Tempat kita mengejar berbagai keinginan. Dan
memang manusia diciptakan mempunyai kehendak, mempunyai keinginan.
Tetapi tidak setiap yang kita inginkan bisa terbukti, tidak setiap yang
kita mau bisa tercapai. Dan tidak mudah menyadari bahwa apa yang bukan
menjadi hak kita tak perlu kita tangisi.
Banyak orang yang tidak sadar
bahwa hidup ini tidak punya satu hukum : harus sukses, harus bahagia
atau harus-harus yang lain.

Betapa
banyak orang yang sukses tetapi lupa bahwa sejatinya itu semua
pemberian Allah hingga membuatnya sombong dan bertindak
sewenang-wenang. Begitu juga kegagalan sering tidak dihadapi dengan
benar. Padahal dimensi tauhid dari kegagalan adalah tidak tercapainya
apa yang memang bukan hak kita. Padahal hakekat kegagalan adalah tidak
terengkuhnya apa yang memang bukan hak kita.

Apa
yang memang menjadi jatah kita di dunia, entah itu Rizki, jabatan,
kedudukan pasti akan Allah sampaikan.
Tetapi apa yang memang bukan
milik kita, ia tidak akan bisa kita miliki, meski ia nyaris menghampiri
kita, meski kita mati-matian mengusahakannya.
 

"Tiada
suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu
sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum
Kami menciptakanya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi
Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berdukacita
terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu
gembira terhadap apa yang diberikaNya kepadamu. Dan Allah tidak
menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri." (QS.
Al-Hadid : 22-23).

Demikian
juga bagi yang sedang galau terhadap jodoh. Kadang kita tak sadar
mendikte Allah tentang jodoh kita, bukannya meminta yang terbaik dalam
istikharah kita tetapi benar-benar mendikte Allah : Pokoknya harus dia
Ya Allah… harus dia, karena aku sangat mencintainya. Seakan kita jadi
yang menentukan segalanya, kita meminta dengan paksa. Dan akhirnya
kalaupun Allah memberikanya maka tak selalu itu yang terbaik. Bisa jadi
Allah tak mengulurkannya tidak dengan kelembutan, tapi melemparkanya
dengan marah karena niat kita yang terkotori.

Maka
wahai jiwa yang sedang gundah, dengarkan firman dari Allah :
"… Boleh
jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kalian. Dan
boleh jadi kalian mencintai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kalian.
Allah Maha mengetahui; sedangkan kalian tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah : 216).

Maka
setelah ini wahai jiwa, jangan kau hanyut dalam nestapa jiwa
berkepanjangan terhadap apa-apa yang luput darimu. Setelah ini harus
benar-benar dipikirkan bahwa apa-apa yang kita rasa perlu di dunia ini
harus benar-benar perlu bila ada relevansinya dengan harapan kita akan
bahagia di akhirat. Karena seorang mukmin tidak hidup untuk dunia
tetapi menjadikan dunia untuk mencari hidup yang sesungguhnya : hidup
di akhirat kelak!

Maka sudahlah, jangan kau tangisi apa yang bukan milikmu!

Bercermin Diri

Tuesday, July 4th, 2006

Tatkala kita berada di depan
cermin, marilah kita bercermin dengan bertanya pada diri kita. "Hey
wajah, apakah engkau ini kelak akan bercahaya bersinar indah di surga
sana? Atau malah engkau ini akan hangus legam terbakar dalam bara
jahannam?"

Lalu, tatap mata kita, seraya bertanya, "Hei mata,
apakah engkau ini yang kelak dapat menatap penuh kelezatan dan
kerinduan, menatap Allah Yang Mahaagung, menatap keindahan surga,
menatap Rasulullah SAW, menatap para Nabi, menatap kekasih-kekasih
Allah kelak? Ataukah engkau ini yang akan terbeliak, melotot, menganga,
terburai, dan meleleh ditusuk baja membara? Akankah engkau yang
seringkali terlibat maksiat ini akan menyelamatkan? Wahai mata, apa
gerangan yang kau tatap selama ini?"

Tanyalah mulut kita ini,
"Apakah mulut ini yang diakhir hayat nanti dapat menyebut kalimat
thayyibah, Laa ilaaha illallaah? Ataukah akan menjadi mulut berbusa
yang akan menjulur julur, menjadi pemakan buah zaqum yang getir
menghanguskan, dan menghancurkan setiap usus? Atau menjadi peminum
lahar dan nanah yang panas membara? Saking terlalu banyaknya dusta,
ghibah, dan fitnah serta orang yang terluka dengan mulut kita ini…?"

"Wahai
mulut, apa gerangan yang kau ucapkan? Wahai mulut yang malang… Betapa
banyak dusta yang engkau ucapkan! Betapa banyak hati yang remuk dengan
pisau kata katamu yang mengiris tajam! Berapa banyak kata kata manis
semanis madu palsu yang engkau ucapkan untuk menipu beberapa orang?
Betapa jarangnya engkau jujur? Betapa jarangnya engkau menyebut nama
Allah dengan tulus? Betapa jarangnya engkau syahdu memohon agar Allah
mengampunimu?"

Berdialoglah dengan diri ini, "Hai… kamu ini
anak sholeh atau anak durjana? Apa saja yang telah kamu peras dari
orang tuamu selama ini? Tetapi, apa yang telah engkau berikan kepada
keduanya, selain menyakiti, membebani, dan menyusahkannya? Tidak
tahukah engkau, betapa sesungguhnya engkau adalah makhluk yang tidak
tahu membalas budi!"

"Wahai tubuh, apakah engkau kelak akan
penuh cahaya, bersinar, bersuka cita, bercengkerama di surga sana? Atau
tubuh yang akan tercabik-cabik hancur mendidih di dalam lahar jahannam,
yang akan terus terasa tanpa ampun, memikul derita tiada akhir?"

"Wahai
tubuh, berapa banyak maksiat yang engkau lakukan? Berapa banyak orang
orang yang engkau dzalimi dengan tubuhmu? Berapa banyak hamba Allah
yang lemah yang engkau tindas dengan kekuatanmu? Berapa banyak perindu
pertolonganmu yang engkau acuhkan tanpa peduli padahal engkau mampu?
Berapa pula hak-hak yang engkau rampas?"

"Wahai tubuh, seperti
apa gerangan isi hatimu? Apakah tubuhmu sebagus kata-katamu atau malah
sekelam kotoran-kotoran yang melekat di tubuhmu? Apakah hatimu segagah
ototmu atau selemah daun-daun yang mudah rontok? Apakah hatimu seindah
penampilanmu atau malah sebusuk kotoran-kotoranmu?"

Lalu
ingatlah amal-amal kita, "Hai tubuh, apakah kau ini makhluk mulia atau
menjijikkan? Berapa banyak aib-aib nista yang engkau sembunyikan
dibalik penampilanmu ini?"

"Apakah engkau ini dermawan atau si
pelit yang menyebalkan? Berapa banyak uang yang engkau nafkahkan
dijalan kebenaran? Bandingkanlah dengan yang engkau gunakan untuk
memenuhi selera rendah hawa nafsumu!"

"Apakah engkau ini
shalih atau shalihah seperti yang engkau tampakkan? Khusyukkah
shalatmu, dzikirmu, do’amu? Ikhlaskah engkau melakukan semua itu?
Jujurlah hai tubuh yang malang! Ataukah engkau ini menjadi makhluk
"riya" tukang pamer?"

Sungguh! Betapa banyak perbedaan antara
yang nampak di cermin dengan apa yang tersembunyi, betapa aku telah
tertipu oleh ‘topeng’? Betapa yang kulihat selama ini hanyalah
‘topeng’, hanyalah seonggok sampah busuk yang terbungkus
‘topeng-topeng’ duniawi .

Wahai sahabat sahabat sekalian…
Sesungguhnya saat bercermin adalah saat yang tepat agar kita dapat
mengenal dan menangisi diri ini. Semoga kita dikaruniai hati yang
istiqamah (selalu lurus) di atas kebenaran, dan semoga kelak kita
kembali kepada Allah membawa qalbun saliim, hati yang selamat. Aamiin.
Wallahu a’lam bish shawab.