Archive for August, 2006

Seperti Cermin yang Memantulkan Sinarnya

Wednesday, August 23rd, 2006

Cermin. Sebuah benda sederhana
namun sangat dibutuhkan. Ya, mungkin hampir setiap orang pernah
bercermin, entah untuk melihat bagian tubuh yang tidak bisa terlihat
oleh mata kita, atau sekedar melihat apakah penampilan kita sudah rapi
atau belum. Bahkan rasanya, tukang potong rambut yang sudah sangat
berpengalaman pun akan tetap merasa kurang ‘pede’ jika tidak ada cermin
untuk melihat hasil kerjanya.

Cermin adalah lambang kejujuran
dan kepercayaan
. Marahkah kita jika kita melihat uban yang mulai tumbuh
di kepala? Sedihkah kita jika kita melihat tubuh yang tampak tidak
proporsional? Mungkin, tapi itulah yang terlihat di cermin.

Cermin
juga lambang konsistensi.
Yang terpampang di dalam cermin adalah apa
yang ada di depan cermin. Adalah mustahil jika katak bercermin akan
muncul bayangan merak. Demikian besarnya hikmah sebuah cermin sehingga
Rasullullah SAW pun bersabda, "Orang mukmin adalah cermin bagi orang
mukmin lainnya." (Diriwayatkan oleh Thabrani).

Di situ kita
dituntut bukan saja agar kita bercermin kepada orang lain sehingga kita
mampu melihat kekurangan diri sendiri, tetapi juga agar kita bisa
menjadi sebuah cermin bagi orang lain untuk berkaca. Masalahnya,
seperti apakah kita jika harus menjadi sepotong cermin? Ada berbagai
macam cermin, ada yang datar, cembung, buram, retak, ada pula yang
besih dan jernih. Bayangan yang dihasilkan pun bermacam-macam. Ada yang
terbalik, buram, serta ada pula yang tegak, jelas dan bersih.

Untuk
bisa mendapatkan bayangan yang obyektif, tajam dan jelas, diperlukan
cermin yang datar, bersih dari debu dan noda sehingga dapat memantulkan
sinarnya. Tak ada yang dikurangi ataupun ditambahi. Semuanya apa
adanya, semuanya proporsional tanpa distorsi. Seorang yang mampu
melihat dan mengkoreksi kesalahan orang lain secara obyektif serta
mampu memberikan solusi perbaikan yang terlahir dari ketulusan hati
bagaikan sepotong cermin yang mampu menghasilkan bayangan yang tanpa
distorsi, bersih, dan sempurna.

Tetapi ternyata bukan hal yang
mudah menjadi sebuah cermin datar yang bersih dan jernih. Perlu
kejujuran dan keberanian untuk menghapus noda dalam cermin, karena
tanpanya hanya bayangan suram yang akan tercipta. Mungkin banyak yang
bisa mengatakan kelebihan seseorang, tetapi sedikit yang berani
mengungkapkan kekurangan orang tersebut.

Kita pasti teringat
bagaimana Fir’aun dikenal sebagi tirani besar sepanjang zaman. Tetapi,
kita mungkin lupa bahwa ada kontribusi dari pembesar-pembesar di
sekelilingnya yang tidak berani menentang kepemimpinannya.

Atau
di zaman ini, bagaimana prinsip ‘asal bapak senang’ dituding sebagai
biang keladi berbagai kebijakan negara yang merugikan. Perkataan yang
terlalu menyanjung kawan, rekanan, atau atasan –padahal jauh dari
kenyataan yang sebenarnya–, atau data dan informasi yang terlalu
‘indah’ seringkali hanya melahirkan keputusan yang menyesatkan. Garbage
in garbage out, begitu pepatah negeri seberang.

Mungkin kita
perlu belajar memupuk keberanian dari para sahabat dan masyarakat
generasi Islam terdahulu. Lihatlah bagaimana seorang wanita begitu
berani menentang keputusan Umar yang dianggapnya tidak adil dalam
pembagian mahar. Kekuasaan besar Umar bin Khattab sebagai seorang
khalifah, tidak membuatnya ciut nyali dan memprotes keputusan khalifah
yang akhirnya segera disadari oleh sang khalifah.

Mungkin kita
sendiri perlu berkaca untuk melihat kotoran apakah yang menyelimuti
cermin kita sehingga tidak bisa menjadi cermin datar yang jernih.
Banyak noda yang terkadang harus kita bersihkan jika kita tak ingin
menjadi sepotong cermin kusam yang hanya akan menghasilkan bayangan
kotor penuh distorsi, sehingga orang lain tak mampu melihat dirinya
dengan utuh dan bersih.

Adakalanya kita harus menghilangkan
noda ‘ketakukan dan kekuatiran’ akan kehilangan jabatan atau kekuasaan,
adakalanya kita harus membersihkan kotoran ‘keengganan’ atau rasa
pakewuh dan malu manakala kita berhadapan dengan seseorang yang kita
sayangi atau hormati. Keengganan untuk mengecewakan yang hanya akan
memunculkan kekecewaan yang lebih besar lagi. Atau mungkin noda ‘rasa
tidak peduli’ akan kesalahan orang lain, atau bahkan lebih buruk lagi
adalah noda ‘keinginan’ untuk melihat orang lain tetap berkutat dengan
kesalahannya.

Semuanya itu adalah noda yang masih bisa
dibersihkan sebelum menjadi karat. Semua bisa hanya menjadi butiran
noktah yang mudah disingkirkan jika kita benar-benar ingin menjadi
sebuah cermin yang memantulkan sinarnya. Sepotong cermin yang disinari
cahaya ketulusan hati, akan membuahkan nasehat yang mampu menembus ke
relung sanubari.

Cinta dan Terima Kasih

Wednesday, August 23rd, 2006

Cinta dan terima kasih. Dua kata yang sangat sederhana. Namun,
kesederhanaannyalah yang membuat kita sering melupakannya. Sering
mengabaikannya. Sering meremehkannya. Padahal kedua kata itu mampu
membangkitkan rasa ‘penghargaan’. Karena cinta, kita merasa disayangi.
Karena cinta, kita merasa hidup. Karena cinta, kita merasa bernyawa.
Karena cinta, kita merasa dihargai. Karena cinta, kita merasa
dibutuhkan. Karena cinta, kita tidak memerlukan pamrih. Yah, cinta
adalah refleksi ketulusan. Begitupun juga dengan terima kasih. Ada rasa
penghargaan dalam ucapan terima kasih. Ada rasa penghormatan dalam
ucapan terima kasih. Ada rasa kesetaraan dalam ucapan terima kasih. Ada
rasa saling membutuhkan dalam ucapan terima kasih. Ada rasa
kerendahhatian dalam ucapan terima kasih. Tidak ada keegoisan dalam
ucapan terima kasih. Tidak ada kesombongan dalam ucapan terima kasih.
Tidak ada yang merasa lebih dalam ucapan terima kasih. Tidak ada yang
merasa kurang dalam ucapan terima kasih. Yah, kata terima kasih adalah
refleksi bahwa kita saling membutuhkan.

Sudahkah hari ini kita mengucapkan kata cinta pada orang-orang yang
terdekat dengan kita? Kepada kedua orang tua kita, kepada adik kita,
kepada kakak kita, kepada nenek kita, kepada kakek kita, kepada suami
kita, kepada isteri kita, kepada sahabat kita, kepada teman-teman kita.
Banyak cara sebagai ungkapan cinta. Perhatian, hadiah, senyuman, adalah
bentuk lain ungkapan cinta. Akan lebih bermakna, jika cinta diungkapkan
dengan bahasa lisan. Minimal pada orang-orang yang menjadi sumber
kekuatan jiwa kita. Kedua orang tua kita, suami atau isteri kita,
anak-anak kita, kakak dan adik kita. Bukankah Rasulullah telah
mencontohkan kepada kita bagaimana seharusnya cinta diungkapkan dalam
bahasa ketulusan ketika kedua cucunya menaiki punggung beliau ketika
beliau sedang menunaikan shalat? Beliau tidak memarahi, apalagi
membentak. Beliau membiarkan.

Sudahkah hari ini kita mengucapakan
terima kasih pada orang-orang di sekitar kita? Kepada cleaning service
kantor yang telah menunaikan tugasnya, sehingga ruangan kita terasa
nyaman untuk beraktivitas selama lebih kurang delapan jam. Kepada
bawahan kita yang telah menyelesaikan tugasnya sesuai dengan petunjuk
kita. Kepada pesuruh kantor yang dengan setia setiap pagi, siang dan
sore mengantarkan air minum ke meja kita, sehingga kita tidak merasa
kehausan selama bekerja di kantor. Kepada sopir angkot atau sopir
pribadi yang telah mengantarkan kita menuju ke kantor setiap pagi.
Kepada bibi yang telah membantu kita selama belasan tahun menyelesaikan
sederetan pekerjaan rumah tangga. Terutama kepada orang-orang yang kita
cintai –kedua orang tua kita, suami, isteri, kakak, adik, anak-anak-,
sudahkan kata: terima kasih terucap dari lisan kita?

Terutama dan
paling utama, sudahkah rasa cinta dan terima kasih kita lantunkan dari
bibir ini untuk Sang Pemilik Jiwa kita? Allah Subhanallah Wa Ta’ala.

Wajah dan Hati Yang Cantik

Tuesday, August 8th, 2006

Kawan muslimah….
Saya membaca sebuah artikel menarik. Yuk…kita sama-sama simak!!

Agar wajah selalu segar, berseri-seri dan cantik, cucilah Minimal 5 kali sehari dengan air wudhu. Jangan langsung dikeringkan oleh handuk, biarkan menetes dan kering sendiri. Lalu ambillah sajadah, shalat, berdzikir, dan berdo’a.

Untuk menghilangkan stress, perbanyaklah ‘olah raga’. Cukup dengan memperbanyak sholat. Ketika sholat, kita menggerakan seluruh tubuh. Lalu berkonsultasilah pada Allah SWT dengan dzikir dan do’a

Untuk pelembab, agar awet muda, gunakanlah senyum. Tidak hanya di bibir tapi juga di hati. Jangan lupa bisikkan ‘kata kunci’, "Allahuma Kamma Hassanta Khalqii Fahassin Khuluqii" (Ya Allah sebagaimana engkau telah memperindah kejadianku, maka perindah pula ahlaqku).(HR Ahmad).

Untuk punya bibir cantik, bisikkan kalimat-kalimat Allah, tidak berbohong, atau menyakiti hati orang lain, tidak menyombongkan diri atau takabur.

Agar tubuh langsing, singset dan mulus, diet yang teratur dengan berpuasa seminggu 2 kali, Senin dan Kamis. Jika kuat, lebih bagus lagi puasa nabi Daud AS. Makanlah makanan halal, perbanyak sayuran, buah-buahan, dan air putih.

Untuk mengembangkan diri, sebarkan salam dan sapaan. Dengan demikian kita akan banyak dikenal dan disayangi.

" mmmmmhh…bisa?? Insya Allah..