Archive for November, 2006

Miliki Harga Diri

Tuesday, November 21st, 2006

Apalah artinya punya rumah
lapang kalau hati sempit!? Apalah artinya penampilan yang indah tapi
berhati busuk!? Apalah gunanya harta banyak tapi hati selalu merasa
miskin!? Apalah mamfaatnya segala ada tapi hati selalu nelangsa!?
Apalah artinya makanan enak dan mahal kalau hati sedang dongkol, memang
segala-galanya sangat tergantung kepada hati kita sendiri.

Sayang
seribu sayang kita amat sibuk memperindah rumah, tubuh, penampilan,
tapi tidak pernah sibuk memperindaj qalbu. Kita sibuk memperkaya harta
tapi jarang memperkaya hati, maka tidak usah heran kalau hidup ini
hanya perpindahan dari derita ke sengsara, dari gelisah ke nestapa,
dari resah ke musibah, seperti tiada berujung walaupun sudah mendatangi
tempat manapun, memiliki apapun, memakan segala apapun.

Padahal
Nabi Muhammad SAW bersabda, "Ketahuilah bahwa dalam tubuh ini ada
segumpal daging yang kalau baik maka akan baiklah sekujur tubuhnya,
begitupun kalau buruk maka akan buruklah seluruh sikapnya, itulah yang
dinamakan qalbu" (HR. Bukhari Muslim).

Nah,
saudaraku sekalian, adalah mimpi di siang bolong, kalau kita ingin
merasakan hidup bahagia yang asli tanpa kita mengetahui bagaimana
caranya hidup dengan memelihara qalbu kita ini. Dijamin seratus persen
tidak akan pernah merasakan kebahagiaan maupun kemuliaan tanpa
kesungguhan menata hati ini.

Salah
satu biang busuknya hati kita ini adalah kalau sudah tertipu dalam
mencari harta. Seakan hidup hanya akan terhormat dan terjamin dengan
banyak uang, sehingga tidak peduli lagi halal haramnya. Bagi yang tidak
punya uang pun tidak kalah salahnya, ada sebagian dari kita yang sering
cari jalan pintas, ingin untung besar dengan cara enteng, sehingga
selain tidak berharta juga tidak punya harga diri.

Justru
sering kita saksikan orang jadi hina dan sengsara oleh limpahan harta
dan kedudukannya sendiri yang tentu karena diperolehnya dengan cara
yang tidak benar.

Sepatutnya
kalau harta kita tidak banyak maka perkayalah batin kita sehingga tetap
terhormat, tidak menjadi peminta-minta, atau benalu bagi yang lain
(lihatlah para koruptor, tukang disuap yang malang, sesungguhnya harta
mereka sudah melimpah tapi disiksa dan dihinakan oleh Allah dengan
kemiskinan di hatinya sehingga terus saja meminta-minta, menghisap sana
sini bahkan kepada rakyat kecil sekalipun dengan menggadaikan harga
dirinya, perbuatan ini sungguh hina dan patut kita kasihani).

Orang
yang rizkinya masih pas-pasan bisa jadi lebih mulia dan terhormat kalau
dapat menjaga harga dirinya. Maka, marilah sekuat tenaga jangan sampai
kita menghinakan diri sebagai peminta-minta, apalagi memeras keringat
orang dengan cara yang tidak halal, sungguh aib. Percayalah rizki dari
Allah sangat melimpah, tidak akan tertukar, lihat kerbau saja yang
tidak sekolah rizkinya tetap tercukupi, apalagi diri kita manusia yang
diberi akal dan iman, niscaya kita akan bertemu dengan rizki dalam
keadaan terhormat.


Marilah
saudaraku kita singsingkan lengan lebih serius, kita simbahkan keringat
kerja keras kita di jalan yang halal, didampingi dengan ibadah dan do’a
kita yang sungguh-sungguh, jangan risaukan cemoohan orang tentang harta
atau rumah kita yang sederhana dan tidak berharga yang penting kita
bisa mewariskan yang termahal bagi keluarga, anak-anak, dan lingkungan
kita yaitu hidup dengan memiliki harga diri, tidak pernah mau hidup
menjadi beban dan benalu bagi orang lain.

Sumber : [JurnalMQ-1/6/1001]

I didn’t Mean To.

Monday, November 20th, 2006

Pernahkah suatu kali kita menemui
bahwa ternyata secara tak sengaja telah tersakiti hati orang-orang lain
di sekitar kita. Kita melangkah memulai hari tanpa mengerti bahwa
kemarin, dua hari lalu, atau hari-hari sebelumnya lagi, entah berapa
banyak orang yang tak berkenan dengan apa yang telah kita lakukan.
Walau tanpa sadar, walau tak bermaksud demikian, namun hati yang
terlanjur tersakiti, sulit tuk dipulihkan lagi.
.

Pernahkah kita menyadari bahwa
bisa jadi hari ini kita telah mengecewakan banyak orang? Kita mengira
bahwa hari ini telah dilewati dengan lancar tanpa gangguan dan kita
akhiri hari dengan tidur nyenyak. Namun ternyata tadi pagi, saat kita
lupa mencium tangan orang tua untuk pamit, terbersit sedikit kecewa di
hati mereka. Tadi pagi, saat membayar ongkos bis, kita memberikannya
dengan sodoran yang kasar hingga pak kondektur bis bertambah lelah dan
penatnya bahkan merasa terhina. Tadi pagi, saat masuk ruangan kantor,
kita lupa menyapa dan memberi salam dan senyum pada pak satpam dan
beberapa teman yang sudah datang, hingga yang kita suguhkan hanyalah
wajah lelah sehabis turun naik bis dan kerut kening pertanda banyak
kerjaan kantor yang harus diselesaikan hari itu.

Pernahkah
terpikir oleh kita, bahwa sedikit kesan tak enak yang orang lain
tangkap dari tingkah laku kita, dapat membekas begitu dalam tanpa kita
menyadarinya. Membuat mereka merasa sedih, kecewa, kesal, atau bahkan
marah pada kita. Tanpa kita menyadari, bahwa hari itu telah kita lewati
dengan menyakiti hati begitu banyak orang. Dan saat hati-hati mereka
telah luka, rasanya tak lagi berarti permohonan maaf kita saat kita
ucapkan, "I didn’t mean to…"

Kesalahan yang tak disengaja,
terkadang membuat kita sendiri heran. Kapan ya saya melakukan hal itu?
Benar tidak ya, saya telah bersikap kasar padanya? Ah, saya kan tidak
bermaksud begitu. I didn’t mean to. Dan sekian banyak pemaafan yang
kita ukir untuk diri kita sendiri, tanpa peduli orang tersebut masih
merasakan sakitnya hingga kini.

Tak usahlah lagi alasan itu
dicari. Mari mulai memperbaiki, mulai saat ini. Sebab kita tak pernah
tahu kapan diri kita pernah menyakiti.
<br

Dua Sisi Sifat Manusia

Tuesday, November 14th, 2006

Seorang anak bertanya kepada
ayahnya mengapa dulu dia mudah sekali tersinggung, gampang marah, tidak
tenang, dan selalu punya prasangka buruk terhadap orang lain. Dia ingin
tahu cara mengubah perangainya…

Sang ayah berkata, "Dalam
diri manusia ada dua ‘Penjaga’. Penjaga putih dan Penjaga hitam.
Penjaga hitam selalu berpikiran negatif, mudah marah dan selalu punya
prasangka buruk. Sedang Penjaga putih selalu berpikiran positif, baik
hati, dan suka hidup damai. Setiap hari kedua penjaga ini selalu
berkelahi dalam hati manusia."

"Lalu siapakah yang menang?" tanya si anak.
"Yang
menang adalah yang setiap hari kau beri makan," kata sang ayah. "Sebuah
contoh, saat ujian tiba, penjaga putih akan menyuruh kamu belajar
dengan tekun tetapi sebaliknya penjaga hitam akan menyuruh kamu untuk
menyontek teman sebelah kamu." lanjut sang ayah.

Anak tersebut mengangguk-angguk mendengarkan nasehat ayahnya.

***

Diri
kita adalah apa yang kita pikirkan. Kita akan menjadi seperti apa yang
kita pikirkan tentang diri kita. Mengapa pikiran itu begitu besar
pengaruhnya? Ternyata pikiran-pikiran yang kita masukkan dalam diri
kita akan mempengaruhi perilaku kita sehari-hari, perilaku akan
membentuk sifat, sifat akan membentuk kebiasaan dan kebiasaanlah yang
akan menentukan nasib kita.

Memang nasib manusia berada dan
ditentukan oleh Allah SWT, tetapi manusia juga mempunyai pilihan untuk
menentukan nasibnya sebelum hal itu terjadi. Karena Allah SWT tidak
akan merubah nasib umat-Nya kalau manusia itu sendiri tidak mau
merubahnya.

Jadi mulai saat ini masukkanlah pikiran-pikiran
positif yang bermanfaat dalam diri kita, buanglah jauh-jauh rasa iri
hati, dendam, benci dan pikiran negatif lainnya yang bisa merugikan
kita. Janganlah kita memberi makan kepada "penjaga hitam" yang ada
dalam diri kita.