Archive for December, 2006

Bercermin dengan Aib Sendiri

Tuesday, December 26th, 2006

"Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya. Apabila melihat aib padanya, dia segera memperbaikinya." (HR. Bukhari).

Indahnya
nikmat keimanan, hati yang semula gelap menjadi terang, bahaya dan
penyakit di sekitar diri yang sebelumnya tertutupi bisa terlihat jelas.
Kini tampak mana yang baik dan yang buruk, dalam hal apapun, termasuk
dalam pergaulan dan persaudaraan Islam, tak ada manusia yang lebih
sempurna.

Saat ini, tak ada manusia yang serba sempurna dalam
segala hal, selalu saja ada kekurangan. Boleh jadi ada yang bagus dalam
rupa, tapi ada yang kekurangan dalam gaya bicara. Bagus dalam menguasai
ilmu, tapi tidak mampu menguasai emosi kalau ada saingan. Kuat di satu
sisi, tetapi rentan di sudut yang lain.

Dari situlah, seorang
mukmin musti cermat mengukur timbangan penilaian terhadap seseorang.
Apa kekurangan dan kesalahannya, kenapa bisa begitu, dan seterusnya.
Seperti apapun orang yang sedang dinilai, keadilan tak boleh dilupakan,
walaupun terhadap orang yang tidak disukai. Yakinlah kalau dibalik
keburukan sifat seorang mukmin, pasti ada kebaikan di sisi yang lain.
Tidak boleh main "pukul rata" : "Ah, orang seperti itu memang tidak
pernah baik!!!"

ALLAH SWT, senantiasa meminta orang orang
beriman agar senantiasa bersikap adil, FirmanNYA dalam surat Al-Maidah
ayat 8, "Hai orang orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang
yang selalu menegakkan (kebenaran), karena ALLAH menjadi saksi dengan
adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap sesuatu kaum mendorong kamu
berlaku tidak adil. Berlakulah adil, karena adil itu lebih dekat kepada
TAQWA. Dan bertakwalah kepada ALLAH, sesungguhnya ALLAH Maha Mengetahui
apa yang kamu kerjakan."

Dari timbangan yang adil itulah,
penilaian jadi proporsional, tidak serta merta mencap orang itu pasti
salah, mungkin ada sebab yang membuat ia lalai, lengah, dan kehilangan
kendali. Bahkan boleh jadi, jika pada posisi dan situasi yang sama,
kita pun tidak lebih bagus dari orang yang kita nilai.

Kekurangan
diri seorang mukmin merupakan ujian mukmin yang lain. Sesama mukmin
seperti satu tubuh, ada keterkaitan yang begitu kuat. Sakit di salah
satu bagian tubuh, berarti sakit pula di bagian yang lain. Cela pada
diri seorang mukmin, berarti cela pula buat mukmin yang lain.

Setidaknya
ada dua ujian buat seorang mukmin ketika saudaranya tersangkut aib.
Pertama, kesabaran untuk menanggung keburukan secara bersama. Siapa
lagi yang layak memberi kritik dan saran kalau bukan saudara sesama
mukmin, karena dialah yang lebih paham seperti apa daya tahan keimanan
saudaranya sesama mukmin. Sabar senantiasa untuk menegur, mendekati,
dan memberi solusi.

Kedua, kesabaran untuk tidak mengabarkan
keburukan saudaranya kepada orang lain, ini sulit, karena lidah kerap
usil. Selalu saja tergelitik untuk menyampaikan isu-isu baru yang
menarik. Tapi sayang, sesuatu yang menarik buat orang lain kadang buruk
di mata objek yang dibicarakan.

Di situlah ujian seorang mukmin
untuk mampu memilih dan memilah, mana yang perlu dikabarkan dan mana
yang tidak. Rasulullah SAW bersabda, "Tidak akan masuk surga orang yang
suka mendengar-dengar berita rahasia orang lain." (HR. Bukhari).

Tataplah
kekurangan diri sebelum menilai kekurangan orang lain, ego manusia
selalu mengatakan kalau "sayalah yang selalu baik dan yang lainnya
buruk." Dominasi ego yang seperti inilah yang kerap membuat timbangan
penilaian jadi tidak adil. Kesalahan dan kekurangan orang lain begitu
jelas, tapi kekurangan diri tak pernah terlihat. Padahal, kalau saja
bukan karena anugerah ALLAH berupa tertutupnya aib diri, tentu orang
lain pun akan secara jelas menemukan aib kita.

Sebelum memberi
reaksi terhadap aib orang lain, lihatlah secara jernih seperti apa mutu
diri sendiri. Lebih baikkah atau jangan-jangan lebih buruk. Dari
situlah ucapan syukur dan istighfar mengalir dari hati yang paling
dalam. Syukur kalau diri ini ternyata lebih baik. Dan istighfar jika
terlihat bahwa diri sendiri lebih buruk.

Tatap aib saudara
mukmin lain dengan pandangan baik sangka. Mungkin ia terpaksa, mungkin
itulah pilihan terburuk dari salah satu pilihan yang terburuk. Mungkin
langkah dia jauh lebih baik dari langkah kita, jika berada pada situasi
dan kondisi yang sama.

Membuka aib seorang mukmin berarti
memperlihatkan aib sendiri, seorang mukmin dengan mukmin lainnya adalah
bersaudara. Sebuah persaudaraan yang lebih sakral ketimbang satu ayah
satu ibu, karena ALLAH sendiri yang mengatakan kekuatan persaudaraan
itu, "Sesungguhnya orang orang beriman itu bersaudara." (QS. 49 : 10).

Ketika
seorang mukmin membuka dan menyebarkan aib saudaranya, ada dua
kesalahan yang dilakukan sekaligus. Pertama, ada citra keagungan
orang-orang beriman yang terkotori, dan reaksi yang muncul memojokkan
umat Islam. Kedua, orang yang menyebarkan aib saudaranya, sebenarnya
tanpa sadar memperlihatkan jati dirinya yang asli. Antara lain, tidak
bisa memegang rahasia, lemah kesetiakawanan, dan penyebar berita
bohong. Semakin banyak aib yang ia sebarkan, kian jelas keburukan diri
si penyebar.

Benar apa yang di nasehatkan Rasulullah SAW, bahwa
diam adalah pilihan terbaik ketika tidak ada bahan ucapan yang baik.
Simpanlah aib seorang teman dan saudara sesama mukmin, karena dengan
begitu kelak ALLAH SWT akan menutup aib kita di hadapan manusia.

Ya
ALLAH, Engkaulah yang mempunyai Kekuasaan, Engkau beri Kekuasaan kepada
orang orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuatan dari
orang-orang yang Kau kehendaki, Engkau muliakan orang-orang yang Engkau
kehendaki. Dan Engkau hinakan orang-orang yang Engkau kehendaki. Di
tanganMU lah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas
segala sesuatu." (QS. Ali-Imran : 26).

Aku Malu, Ya Allah!

Tuesday, December 26th, 2006

Sahabatku…, mungkin kenistaan
diri membuat kita malu untuk datang kepada Allah SWT. Usah kau malu!
Sedangkan malu terhadap Allah Azza wa Jalla itupun adalah hal yang amat
berharga bagimu. Seperti gelar haji yang membuat penyandangnya selalu
menjaga perilaku karena malu, maka taubat yang pernah kau jalankan pun
akan membawamu merasa malu. Sehingga rasa malu selalu menjadi tameng
dirimu untuk tidak lagi mengerjakan perbuatan maksiat.

Dalam
sebuah hadits riwayat imam Bukhari, Rasulullah SAW mengisahkan bahwa
dulu pernah ada ada seorang ayah yang dikarunia Allah SWT harta yang
banyak. Saat ajal menjelang, ia kumpulkan semua anaknya dan ia
berwasiat kepada mereka. Ia katakan, "Menurut kalian, Ayah yang
bagaimana aku ini?" Anak-anaknya menjawab bahwa dia adalah ayah yang
baik.

Terenyuh mendengarnya, ia pun menyadari bahwa dirinya
tidak pernah melakukan kebaikan sedikit pun. Lalu ia berpesan bila ia
telah mati nanti agar jasadnya dibakar, dan debunya ditebarkan pada
hari dimana angin bertiup kencang. Ia bersikap demikian karena ia malu
bila bertemu dengan Allah SWT, sementara dirinya nista, penuh dengan
dosa!

Lalu anak-anaknya menjalankan wasiat itu dengan baik.
Saat debu sang ayah mereka tebarkan pada angin yang bertiup kencang,
maka Allah SWT menghimpun kembali serpihan dari debu yang betebaran.
Serta-merta Allah SWT berfirman dan kembalilah jasad utuh seperti
semula. Kini sang hamba berdiri menggigil ketakutan.

Dalam
kepanikan yang dialaminya, Allah SWT bertanya kepadanya, "Mengapa kau
lakukan ini semua?!" Di hadapan keagungan Tuhan, sulit sekali lisan
berucap dan bibir tergerak. Satu kalimat yang meluncur dari lisannya.
"Aku takut padaMu, Tuhan… Aku malu padaMu!" Itu saja yang dapat ia
ucapkan. Ia berdiri merinding, menggigil, dan terdiam ketakutan. Karena
hal itu, Allah SWT pun memasukkan sang hamba ke dalam rahmatNya.
Subhanallah! Rasa malu atas dosa membuat Allah SWT memberi ampunan!

Ketahuilah
sahabatku…, dosa dan kesalahan membuat diri kita menjadi malu. Saat
mendefinisikan dosa, Rasulullah SAW mengatakan bahwa ia adalah sesuatu
yang membuat jiwamu gelisah, dan kau merasa malu bila ada orang yang
melihatnya! Demikianlah dosa. Dosa membuat manusia merasa malu.
Karenanya, tinggalkanlah!

Diriwayatkan dari Said bin Jubair dari
Ibnu Umar sebagai hadits marfu’, "Allah mendatangi orang mukmin pada
hari kiamat, Dia mendekatinya hingga membuat orang itu tertutup dari
pandangan semua makhlukNya. Lalu Allah berkata kepadanya, "Bacalah!"
Allah kemudian memberitahukan dosa-dosa orang itu, lalu berkata lagi,
"Tahukah kamu dosa ini? Tahukah kamu dosa itu?" Orang itu menjawab,
"Ya." Kemudian ia melihat kanan kirinya, Allah berkata lagi, "Tidak
perlu cemas hambaKu, kamu berada dalam hijabKu hingga tidak ada seorang
pun dapat melihatMu. Tidak ada seorang pun di antara Aku dan engkau
pada hari ini yang dapat mengintip dosa-dosamu selain Aku. Aku
memberimu ampun atas dosa-dosa itu cukup dengan satu hal dari semua
yang telah kau lakukan untukKu. Orang itu berkata, "Apa itu Tuhanku?"
Allah menjawab, "Engkau tidak pernah mengharap ampunan selain daripada
Aku." (Jami’ Al-Ulum wal Hikam, hal. 393).

Bundaku

Thursday, December 21st, 2006

Bunda…
Jauh darimu terasa benar rasa rinduku akanmu
Teringat aku saat-saat ada di dekatmu
Kau curahkan segenap cintamu untuk kami, keluargamu
Dari pagi menjelang hingga malam menutup hari
Tanpa lelah kau layani kami, pengabdian yang tanpa batas

Bunda…
Terkadang di saat penatmu
Masih saja kau sempatkan tuk sekedar mendengar berbagai celotehku
Entah itu tentang kesedihanku atau tentang berbagai sukaku
Dengan penuh perhatian dan penuh kasih,
kau dengar setiap kata yang keluar dari mulutku
Dan dengan penuh bijak kau beri berbagai nasehat,
selayaknya orangtua terhadap anak-anaknya
Terkadang kau tersenyum atau bahkan tertawa jika ada kataku yang lucu
Namun tak jarang pula kau akan menegurku,
bila yang kau dengar hal yang tak sewajarnya

Bunda…
Tak terasa sudah lebih dari 20 tahun kau menemaniku
Walau kadang kita terpisah oleh jarak tempat dimana kita berada
Namun itu tak mengurangi perhatianmu padaku
Dan tak akan pernah pula mengurangi sayangku padamu

Tau kah kau bunda…
Aku selalu kagum padamu
Dengan kesetiaanmu pada suami dan keluargamu
Dengan seluruh cinta yang kau beri pada kami
Dengan tulusnya perhatian dan kasihmu untuk semua
Dengan semua ketabahan, kesabaran, dan keikhlasanmu mendidik kami

Bunda…
Engkau selalu membangunkan kami saat shubuh,
atau memperbaiki letak selimut kami saat kami terlelap di gelapnya malam
Engkau selalu mengingatkan kami agar bersyukur atas semua nikmat-Nya
Dan selalu mengajak kami untuk selalu bangun saat sepertiga malam,
untuk menemui Sang Kekasih Sejati

Bunda…
Salah satu do’aku pada Illahi Rabbi
Agar engkau menjadi salah satu insan yang menghuni jannahNya,
dan dapat menjadi bidadari di dunia serta di akhirat kelak.
Semoga aku pun bisa menjadi sepertimu
Seorang bunda yang penuh cinta, setia, ikhlas dan istiqamah selalu
Aamiin…