Bebalkah Hati Kita???
"Maaf, Pak, bisa geser
sedikit?" Seorang pemuda meminta kursi kepada seorang penumpang yang
lebih dulu duduk di bangku yang diset untuk dua orang. Penumpang
pertama, seorang bapak, nampaknya sudah duduk sejak awal sebelum pemuda
ini naik.
Bapak itu menggeser tubuhnya dengan enggan, bahkan
sepertinya ia nampak kecut. Ia memandang si pemuda yang meminta tempat
tersebut dengan separuh mata. Padahal ia tahu, bahwa kursi bus itu
untuk dua orang. Mengapa ia berniat untuk mengukuhi sendiri? Badannya
yang tambun bukan berarti ia harus memonopoli tempat, kecuali jika dia
membayar untuk dua kursi, mungkin ini urursanya lain, walau tak
sepenuhnya benar.
Sempat saya membayangkan, jika bapak itu
menjawab, "Oya, mangga, silakan!" Kemudian ia menggeser tubuhnya tanpa
ragu sehinga penumpang yang lain mendapat tempat duduk yang sama
dengannya. Lebih lanjut, seandainya si bapak bertanya –walau mungkin
untuk basa-basi– dengan muka yang senyum, "Mau ke mana, Dhe?"
Saya
kira, melakukan hal tersebut tidaklah sulit. Kehangatan itu akan
membuat penumpang yang disapa merasa lebih nyaman duduk di sampingnya.
***
Kita
sering menemukan muka-muka yang kaku melenggang di jalan atau di
keramaian. Kita juga menemukan kedzaliman-kedzaliman yang tidak
disadari seperti contoh di atas.
Seorang ibu yang dompetnya
banyak receh, tiba-tiba tertidur manakala melihat ada pengamen kecil
naik bis yang sedang ia tumpangi. Kupahami, tindakan seperti itu bukan
semata-mata karena tidak ingin memberi, tapi sudah jelas-jelas merasa
jijik dengan kedatangan pengamen itu.
Saudaraku, untuk apa harta
yang sedikit itu kita kukuhi sendiri, sedang membelanjakannya dalam
amal akan melipatgandakannya? Jangan sampai karena harta, hati kita
menjadi keras, tak pernah gemetar bila mendapat kesempatan untuk
berbuat baik.
Sesungguhnya harta kita adalah harta yang telah
kita belanjakan di jalan Allah, dan sesungguhnya rejeki kita adalah apa
yang telah masuk ke dalam perut. Kalau sudah masuk tapi itu bukan
rejeki kita, sesuatu itupun akan dimuntahkan kembali.
***
Seorang
teman pernah tersinggung ketika ada yang menyuruhnya untuk shalat.
"Shalat gak shalat adalah urusanku!" Astaghfirullah. Hati yang membatu
akan sangat sulit menerima sentuhan Illahiyah. Bila datang kepadanya
sebuah kebenaran, sama sekali hatinya tak berdesir.
Kebenaran,
saudaraku, jika boleh bertutur, tidak selalu datang dari orang yang
lebih pandai, ustadz, atau ulama. Tapi terkadang ia datang dari orang
yang kita anggap –mungkin– polos dan rendah. Jika adik kita menunjukkan
kebaikan dan kita tersinggung karena merasa digurui, maka hati-hatilah.
Terkadang penyakit hati hinggap tanpa kita sadari.
***
Tanpa
disadari, mungkin kita pernah melakukan hal-hal seperti itu. Merasa
kecut bila ada orang yang meminta duduk di sebelah kita, sedang tempat
yang tersedia terbatas, pernah merasa terganggu tatkala ada pengamen
menemui, pernah merasa tersinggung saat orang yang lebih yunior
menyampaikan kebaikan kepada kita.
Mari cepat-cepat kita
menyadarinya untuk kemudian tidak melakukan kebodohan yang sama. Mari
lembutkan dan lapangkan hati sebisa-bisa melapangkan, jangan sampai
kita menyimpan penjara di dalamnya yang kita sendiri tidak menyadari
keberadaannya.
Ceriakan hati dan tersenyumlah apabila ada
kebaikan yang datang menemui. Berikan kesempatan pada tangan kita untuk
bisa melakukan hal yang bermanfaat.