Betapa Indahnya Berumah Tangga

Oleh : Ameeratul Jannah

Baitijannati. Ketika
melihat pasangan yang baru menikah, saya suka tersenyum. Bukan apa-apa,
saya hanya ikut merasakan kebahagiaan yang berbinar spontan dari
wajah-wajah syahdu mereka. Tangan yang saling berkaitan ketika
berjalan, tatapan-tatapan penuh makna, bahkan sirat keengganan saat
hendak berpisah. Seorang sahabat yang tadinya mahal tersenyum, setelah
menikah senyumnya selalu saja mengembang. Ketika saya tanyakan mengapa,
singkat dia berujar “Menikahlah! Nanti juga tahu
sendiri”. Aih…

Menikah adalah sunnah terbaik dari sunnah yang baik itu yang saya baca
dalam sebuah buku pernikahan. Jadi ketika seseorang menikah, sungguh ia
telah menjalankan sebuah sunnah yang di sukai Nabi. Dalam buku tersebut
dikatakan bahwa Allah hanya menyebut nabi-nabi yang menikah dalam
kitab-Nya. Hal ini menunjukkan betapa Allah menunjukkan keutamaan
pernikahan. Dalam firmannya, “Dan
diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu
istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa
tentram kepadanya, dan Dia menjadikan rasa kasih sayang diantaramu.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
bagi kalian yang berfikir.” (QS. Ar-Rum: 21).

Menikah itu Subhanallah indah, kata Almarhum ayah saya dan hanya
bisa dirasakan oleh yang sudah menjalaninya. Ketika sudah menikah,
semuanya menjadi begitu jelas, alur ibadah suami dan istri. Beliau
mengibaratkan ketika seseorang baru menikah dunia menjadi terang
benderang, saat itu kicauan burung terdengar begitu merdu. Sepoi angin
dimaknai begitu dalam, makanan yang terhidang selalu saja disantap
lezat. Mendung di langit bukan masalah besar. Seolah dunia milik mereka
saja, mengapa? karena semuanya dinikmati berdua. Hidup seperti seolah
baru dimulai, sejarah keluarga baru saja disusun.

Namun sayang tambahnya, semua itu lambat laun menguap ke angkasa
membumbung atau raib ditelan dalamnya bumi. Entahlah saat itu cinta
mereka berpendar ke mana. Seiring detik yang berloncatan, seolah cinta
mereka juga. Banyak dari pasangan yang akhirnya tidak sampai ke tujuan,
tak terhitung pasangan yang terburai kehilangan pegangan, selanjutnya
perahu mereka karam sebelum sempat berlabuh di tepian. Bercerai, sebuah
amalan yang diperbolehkan tapi sangat dibenci Allah.

Ketika Allah menjalinkan perasaan cinta diantara suami istri,
sungguh itu adalah anugerah bertubi yang harus disyukuri. Karena cinta
istri kepada suami berbuah ketaatan untuk selalu menjaga kehormatan
diri dan keluarga. Dan cinta suami kepada istri menetaskan keinginan
melindungi dan membimbingnya sepenuh hati. Lanjutnya kemudian.

Saya jadi ingat, saat itu seorang istri memarahi suaminya
habis-habisan, saya yang berada di sana merasa iba melihat sang suami
yang terdiam. Padahal ia baru saja pulang kantor, peluh masih membasah,
kesegaran pada saat pergi sama sekali tidak nampak, kelelahan begitu
lekat di wajah. Hanya karena masalah kecil, emosi istri meledak begitu
hebat. Saya kira akan terjadi “perang” hingga bermaksud mengajak
anak-anak main di belakang. Tapi ternyata di luar dugaan, suami malah
mendaratkan sun sayang penuh mesra di kening sang istri. Istrinya yang
sedang berapi-api pun padam, senyum malu-malunya mengembang kemudian
dan merdu uaranya bertutur “Maafkan Mama ya Pa..”. Gegas ia raih tangan
suami dan
mendekatkannya juga ke kening, rutinitasnya setiap kali suaminya datang.

Jauh setelah kejadian itu, saya bertanya pada sang suami kenapa ia
berbuat demikian. “Saya mencintainya, karena ia istri yang
dianugerahkan Allah, karena ia ibu dari anak-anak. Yah karena saya
mencintainya” demikian jawabannya.

Ibn Qayyim Al-Jauziah seorang ulama besar, menyebutkan bahwa cinta
mempunyai tanda-tanda. Pertama, ketika mereka saling mencintai maka
sekali saja mereka tidak akan pernah saling mengkhianati, Mereka akan
saling setia senantiasa, memberikan semua komitmen mereka.
Kedua, ketika seseorang mencintai, maka dia akan mengutamakan yang
dicintainya, seorang istri akan mengutamakan suami dalam keluarga, dan
seorang suami tentu saja akan mengutamakan istri dalam hal perlindungan
dan nafkahnya. Mereka akan sama-sama saling mengutamakan, tidak ada
yang merasa superior.
Ketiga, ketika mereka saling mencintai maka sedetikpun mereka tidak
akan mau berpisah, lubuk hatinya selalu saling terpaut. Meskipun secara
fisik berjauhan, hati mereka seolah selalu tersambung. Ada do’a
istrinya agar suami selamat dalam perjalanan dan memperoleh sukses
dalam pekerjaan. Ada tengadah jemari istri kepada Allahi supaya suami
selalu dalam perlindunganNya, tidak tergelincir. Juga ada ingatan suami
yang sedang membanting tulang meraup nafkah halal kepada istri
tercinta, sedang apakah gerangan Istrinya, lebih semangatlah ia.

Saudaraku, ketika segala sesuatunya berjalan begitu rumit dalam
sebuah rumah tangga, saat-saat cinta tidak lagi menggunung dan
menghilang seiring persoalan yang datang silih berganti. Perkenankan
saya mengingatkan lagi sebuah hadist nabi. Ada baiknya para istri dan
suami menyelami bulir-bulir nasehat berharga dari Nabi Muhammad. Salah
satu wasiat Rasulullah yang diucapkannya pada saat-saat terakhir
kehidupannya dalam peristiwa haji wada’:

“Barang siapa -diantara para suami- bersabar atas perilaku buruk
dari istrinya, maka Allah akan memberinya pahala seperti yang Allah
berikan kepada Ayyub atas kesabarannya menanggung penderitaan. Dan
barang siapa -diantara para istri- bersabar atas perilaku buruk
suaminya, maka Allah akan memberinya pahala seperti yang Allah berikan
kepada Asiah, istri fir’aun” (HR Nasa-iy dan Ibnu Majah ).

Kepada saudaraku yang baru saja menggenapkan setengah dien, Tak ada
salahnya juga untuk saudaraku yang sudah lama mencicipi asam garamnya
pernikahan, Patrikan firman Allah dalam ingatan : “…Mereka (para istri) adalah pakaian bagi kalian (para suami) dan kalian adalah pakaian bagi mereka…” (QS. Al-Baqarah:187)

Torehkan hadist ini dalam benak : “Sesungguhnya ketika seorang
suami memperhatikan istrinya dan begitu pula dengan istrinya, maka
Allah memperhatikan mereka dengan penuh rahmat, manakala suaminya
rengkuh telapak tangan istrinya dengan mesra, berguguranlah dosa-dosa
suami istri itu dari sela jemarinya” (Diriwayatkan Maisarah bin Ali
dari Ar-Rafi’ dari Abu Sa’id Alkhudzri r.a)

Kepada sahabat yang baru saja membingkai sebuah keluarga, Kepada
para pasutri yang usia rumah tangganya tidak lagi seumur jagung,
Ingatlah ketika suami mengharapkan istri berperilaku seperti Khadijah
istri Nabi, maka suami juga harus meniru perlakukan Nabi Muhammad
kepada para Istrinya. Begitu juga sebaliknya.

Perempuan yang paling mempesona adalah istri yang shalehah, istri
yang ketika suami memandangnya pasti menyejukkan mata, ketika suaminya
menuntunnya kepada kebaikan maka dengan sepenuh hati dia akan
mentaatinya, jua tatkala suami pergi maka dia akan amanah menjaga harta
dan kehormatannya. Istri yang tidak silau dengan gemerlap dunia
melainkan istri yang selalu bergegas merengkuh setiap kemilau ridha
suami.

Lelaki yang berpredikat lelaki terbaik adalah suami yang memuliakan
istrinya. Suami yang selalu dan selalu mengukirkan senyuman di wajah
istrinya. Suami yang menjadi qawwam istrinya. Suami yang begitu tangguh
mencarikan nafkah halal untuk keluarga. Suami yang tak lelah berlemah
lembut mengingatkan kesalahan istrinya. Suami yang menjadi seorang
nahkoda kapal keluarga, mengarungi samudera agar selamat menuju tepian
hakiki “Surga”. Dia memegang teguh firman Allah, “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6)

Akhirya, semuanya mudah-mudah tetap berjalan dengan semestinya.
Semua berlaku sama seperti permulaan. Tidak kurang, tidak juga
berlebihan.Meski riak-riak gelombang mengombang-ambing perahu yang
sedang dikayuh, atau karang begitu gigih berdiri menghalangi biduk
untuk sampai ketepian. Karakter suami istri demikian, Insya Allah dapat
melaluinya dengan hasil baik. Sehingga setiap butir hari yang bergulir
akan tetap indah, fajar di ufuk selalu saja tampak merekah. Keduanya
menghiasi masa dengan kesyukuran, keduanya berbahtera dengan bekal
cinta. Sama seperti syair yang digaungkan Gibran,

Bangun di fajar subuh dengan hati seringan awan
Mensyukuri hari baru penuh sinar kecintaan
Istirahat di terik siang merenungkan puncak getaran cinta
Pulang di kala senja dengan syukur penuh di rongga dada
Kemudian terlena dengan doa bagi yang tercinta dalam sanubari
Dan sebuah nyanyian kesyukuran tersungging di bibir senyuman

Semoga Allah selalu menghimpunkan kalian (yang saling mencintai
karena Allah dalam ikatan halal pernikahan) dalam kebaikan.
Mudah-mudahan Allah yang maha lembut melimpahkan kepada kalian bening
saripati cinta, cinta yang menghangati nafas keluarga, cinta yang
menyelamatkan. Semoga Allah memampukan kalian membingkai keluarga
sakinah, mawaddah, warrahmah.

Semoga Allah mematrikan helai keikhlasan di setiap gerak dalam
keluarga. Jua Allah yang maha menetapkan, mengekalkan ikatan pernikahan
tidak hanya di dunia yang serba fana tapi sampai ke sana, the real
world “Akhirat”. Mudah-mudahan kalian selamat mendayung sampai ketepian.
Allahumma Aamiin.

Barakallahu, untuk para pengantin muda. Mudah-mudahan saya mampu
mengikuti tapak kalian yang begitu berani mengambil sebuah keputusan
besar, yang begitu nyata menandakan ketaqwaan kepada Allah serta
ketaatan kepada sunnah Rasul Pilihan. Mudah-mudahan jika giliran saya
tiba, tak perlu lagi saya bertanya mengapa teman saya menjadi begitu
murah senyum. Karena mungkin saya sudah mampu menemukan jawabannya
sendiri. (www.baitijannati.wordpress.com)
__________________
Do people think that they will be left alone because they say:”We beleive,” and will not be tested.(TQS Al-Ankabut:2)

Sumber : prayoga.net

Leave a Reply