Jenuh

January 22nd, 2007 by srirahayu-83

Ternyata hati, tak bisa berdusta
Meski ku coba, tetap tak bisa
Dulu cintaku, banyak padamu
Entah mengapa, kini berkurang

Maaf, aku jenuh padamu
Lama sudah kupendam
Tertahan dibibirku
Mauku tak menyakiti
Meski begitu indah
Ku masih tetap saja…. jenuh ….

Taukah kini, kau kuhindari
Merasakah kau, ku lain padamu
Kini Temukan, hanya cinta saja
Sementara kau, merasa cukup

Complicated

January 18th, 2007 by srirahayu-83

Kawan…
Tahu nggak…akhir2 ini saya sering banget sakit kepala. Setiap ada beban pikiran ..pasti larinya ke sakit kepala. Sampai2 sakiiit banget itu kepala. Meski ga pernah berhari2 larut dalam hal yang difikirkan…tapi cukup terasa terganggu juga disaat sakit kepala itu muncul.

Hmmm…astaghfirullah…rasanya ada yang aneh dalam diri ini. Rasanya ada yang berubah dalam menyikapi masalah. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan masalah. Yang salah adalah ketika kita salah dalam menyikapi suatu masalahnya.

saya harus semangat. saya harus tenang. Kurangi rasa panik!!!. Tenang..tenang…berfikir yang jernih…..

Bercermin dengan Aib Sendiri

December 26th, 2006 by srirahayu-83

"Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya. Apabila melihat aib padanya, dia segera memperbaikinya." (HR. Bukhari).

Indahnya
nikmat keimanan, hati yang semula gelap menjadi terang, bahaya dan
penyakit di sekitar diri yang sebelumnya tertutupi bisa terlihat jelas.
Kini tampak mana yang baik dan yang buruk, dalam hal apapun, termasuk
dalam pergaulan dan persaudaraan Islam, tak ada manusia yang lebih
sempurna.

Saat ini, tak ada manusia yang serba sempurna dalam
segala hal, selalu saja ada kekurangan. Boleh jadi ada yang bagus dalam
rupa, tapi ada yang kekurangan dalam gaya bicara. Bagus dalam menguasai
ilmu, tapi tidak mampu menguasai emosi kalau ada saingan. Kuat di satu
sisi, tetapi rentan di sudut yang lain.

Dari situlah, seorang
mukmin musti cermat mengukur timbangan penilaian terhadap seseorang.
Apa kekurangan dan kesalahannya, kenapa bisa begitu, dan seterusnya.
Seperti apapun orang yang sedang dinilai, keadilan tak boleh dilupakan,
walaupun terhadap orang yang tidak disukai. Yakinlah kalau dibalik
keburukan sifat seorang mukmin, pasti ada kebaikan di sisi yang lain.
Tidak boleh main "pukul rata" : "Ah, orang seperti itu memang tidak
pernah baik!!!"

ALLAH SWT, senantiasa meminta orang orang
beriman agar senantiasa bersikap adil, FirmanNYA dalam surat Al-Maidah
ayat 8, "Hai orang orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang
yang selalu menegakkan (kebenaran), karena ALLAH menjadi saksi dengan
adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap sesuatu kaum mendorong kamu
berlaku tidak adil. Berlakulah adil, karena adil itu lebih dekat kepada
TAQWA. Dan bertakwalah kepada ALLAH, sesungguhnya ALLAH Maha Mengetahui
apa yang kamu kerjakan."

Dari timbangan yang adil itulah,
penilaian jadi proporsional, tidak serta merta mencap orang itu pasti
salah, mungkin ada sebab yang membuat ia lalai, lengah, dan kehilangan
kendali. Bahkan boleh jadi, jika pada posisi dan situasi yang sama,
kita pun tidak lebih bagus dari orang yang kita nilai.

Kekurangan
diri seorang mukmin merupakan ujian mukmin yang lain. Sesama mukmin
seperti satu tubuh, ada keterkaitan yang begitu kuat. Sakit di salah
satu bagian tubuh, berarti sakit pula di bagian yang lain. Cela pada
diri seorang mukmin, berarti cela pula buat mukmin yang lain.

Setidaknya
ada dua ujian buat seorang mukmin ketika saudaranya tersangkut aib.
Pertama, kesabaran untuk menanggung keburukan secara bersama. Siapa
lagi yang layak memberi kritik dan saran kalau bukan saudara sesama
mukmin, karena dialah yang lebih paham seperti apa daya tahan keimanan
saudaranya sesama mukmin. Sabar senantiasa untuk menegur, mendekati,
dan memberi solusi.

Kedua, kesabaran untuk tidak mengabarkan
keburukan saudaranya kepada orang lain, ini sulit, karena lidah kerap
usil. Selalu saja tergelitik untuk menyampaikan isu-isu baru yang
menarik. Tapi sayang, sesuatu yang menarik buat orang lain kadang buruk
di mata objek yang dibicarakan.

Di situlah ujian seorang mukmin
untuk mampu memilih dan memilah, mana yang perlu dikabarkan dan mana
yang tidak. Rasulullah SAW bersabda, "Tidak akan masuk surga orang yang
suka mendengar-dengar berita rahasia orang lain." (HR. Bukhari).

Tataplah
kekurangan diri sebelum menilai kekurangan orang lain, ego manusia
selalu mengatakan kalau "sayalah yang selalu baik dan yang lainnya
buruk." Dominasi ego yang seperti inilah yang kerap membuat timbangan
penilaian jadi tidak adil. Kesalahan dan kekurangan orang lain begitu
jelas, tapi kekurangan diri tak pernah terlihat. Padahal, kalau saja
bukan karena anugerah ALLAH berupa tertutupnya aib diri, tentu orang
lain pun akan secara jelas menemukan aib kita.

Sebelum memberi
reaksi terhadap aib orang lain, lihatlah secara jernih seperti apa mutu
diri sendiri. Lebih baikkah atau jangan-jangan lebih buruk. Dari
situlah ucapan syukur dan istighfar mengalir dari hati yang paling
dalam. Syukur kalau diri ini ternyata lebih baik. Dan istighfar jika
terlihat bahwa diri sendiri lebih buruk.

Tatap aib saudara
mukmin lain dengan pandangan baik sangka. Mungkin ia terpaksa, mungkin
itulah pilihan terburuk dari salah satu pilihan yang terburuk. Mungkin
langkah dia jauh lebih baik dari langkah kita, jika berada pada situasi
dan kondisi yang sama.

Membuka aib seorang mukmin berarti
memperlihatkan aib sendiri, seorang mukmin dengan mukmin lainnya adalah
bersaudara. Sebuah persaudaraan yang lebih sakral ketimbang satu ayah
satu ibu, karena ALLAH sendiri yang mengatakan kekuatan persaudaraan
itu, "Sesungguhnya orang orang beriman itu bersaudara." (QS. 49 : 10).

Ketika
seorang mukmin membuka dan menyebarkan aib saudaranya, ada dua
kesalahan yang dilakukan sekaligus. Pertama, ada citra keagungan
orang-orang beriman yang terkotori, dan reaksi yang muncul memojokkan
umat Islam. Kedua, orang yang menyebarkan aib saudaranya, sebenarnya
tanpa sadar memperlihatkan jati dirinya yang asli. Antara lain, tidak
bisa memegang rahasia, lemah kesetiakawanan, dan penyebar berita
bohong. Semakin banyak aib yang ia sebarkan, kian jelas keburukan diri
si penyebar.

Benar apa yang di nasehatkan Rasulullah SAW, bahwa
diam adalah pilihan terbaik ketika tidak ada bahan ucapan yang baik.
Simpanlah aib seorang teman dan saudara sesama mukmin, karena dengan
begitu kelak ALLAH SWT akan menutup aib kita di hadapan manusia.

Ya
ALLAH, Engkaulah yang mempunyai Kekuasaan, Engkau beri Kekuasaan kepada
orang orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuatan dari
orang-orang yang Kau kehendaki, Engkau muliakan orang-orang yang Engkau
kehendaki. Dan Engkau hinakan orang-orang yang Engkau kehendaki. Di
tanganMU lah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas
segala sesuatu." (QS. Ali-Imran : 26).

Aku Malu, Ya Allah!

December 26th, 2006 by srirahayu-83

Sahabatku…, mungkin kenistaan
diri membuat kita malu untuk datang kepada Allah SWT. Usah kau malu!
Sedangkan malu terhadap Allah Azza wa Jalla itupun adalah hal yang amat
berharga bagimu. Seperti gelar haji yang membuat penyandangnya selalu
menjaga perilaku karena malu, maka taubat yang pernah kau jalankan pun
akan membawamu merasa malu. Sehingga rasa malu selalu menjadi tameng
dirimu untuk tidak lagi mengerjakan perbuatan maksiat.

Dalam
sebuah hadits riwayat imam Bukhari, Rasulullah SAW mengisahkan bahwa
dulu pernah ada ada seorang ayah yang dikarunia Allah SWT harta yang
banyak. Saat ajal menjelang, ia kumpulkan semua anaknya dan ia
berwasiat kepada mereka. Ia katakan, "Menurut kalian, Ayah yang
bagaimana aku ini?" Anak-anaknya menjawab bahwa dia adalah ayah yang
baik.

Terenyuh mendengarnya, ia pun menyadari bahwa dirinya
tidak pernah melakukan kebaikan sedikit pun. Lalu ia berpesan bila ia
telah mati nanti agar jasadnya dibakar, dan debunya ditebarkan pada
hari dimana angin bertiup kencang. Ia bersikap demikian karena ia malu
bila bertemu dengan Allah SWT, sementara dirinya nista, penuh dengan
dosa!

Lalu anak-anaknya menjalankan wasiat itu dengan baik.
Saat debu sang ayah mereka tebarkan pada angin yang bertiup kencang,
maka Allah SWT menghimpun kembali serpihan dari debu yang betebaran.
Serta-merta Allah SWT berfirman dan kembalilah jasad utuh seperti
semula. Kini sang hamba berdiri menggigil ketakutan.

Dalam
kepanikan yang dialaminya, Allah SWT bertanya kepadanya, "Mengapa kau
lakukan ini semua?!" Di hadapan keagungan Tuhan, sulit sekali lisan
berucap dan bibir tergerak. Satu kalimat yang meluncur dari lisannya.
"Aku takut padaMu, Tuhan… Aku malu padaMu!" Itu saja yang dapat ia
ucapkan. Ia berdiri merinding, menggigil, dan terdiam ketakutan. Karena
hal itu, Allah SWT pun memasukkan sang hamba ke dalam rahmatNya.
Subhanallah! Rasa malu atas dosa membuat Allah SWT memberi ampunan!

Ketahuilah
sahabatku…, dosa dan kesalahan membuat diri kita menjadi malu. Saat
mendefinisikan dosa, Rasulullah SAW mengatakan bahwa ia adalah sesuatu
yang membuat jiwamu gelisah, dan kau merasa malu bila ada orang yang
melihatnya! Demikianlah dosa. Dosa membuat manusia merasa malu.
Karenanya, tinggalkanlah!

Diriwayatkan dari Said bin Jubair dari
Ibnu Umar sebagai hadits marfu’, "Allah mendatangi orang mukmin pada
hari kiamat, Dia mendekatinya hingga membuat orang itu tertutup dari
pandangan semua makhlukNya. Lalu Allah berkata kepadanya, "Bacalah!"
Allah kemudian memberitahukan dosa-dosa orang itu, lalu berkata lagi,
"Tahukah kamu dosa ini? Tahukah kamu dosa itu?" Orang itu menjawab,
"Ya." Kemudian ia melihat kanan kirinya, Allah berkata lagi, "Tidak
perlu cemas hambaKu, kamu berada dalam hijabKu hingga tidak ada seorang
pun dapat melihatMu. Tidak ada seorang pun di antara Aku dan engkau
pada hari ini yang dapat mengintip dosa-dosamu selain Aku. Aku
memberimu ampun atas dosa-dosa itu cukup dengan satu hal dari semua
yang telah kau lakukan untukKu. Orang itu berkata, "Apa itu Tuhanku?"
Allah menjawab, "Engkau tidak pernah mengharap ampunan selain daripada
Aku." (Jami’ Al-Ulum wal Hikam, hal. 393).

Bundaku

December 21st, 2006 by srirahayu-83

Bunda…
Jauh darimu terasa benar rasa rinduku akanmu
Teringat aku saat-saat ada di dekatmu
Kau curahkan segenap cintamu untuk kami, keluargamu
Dari pagi menjelang hingga malam menutup hari
Tanpa lelah kau layani kami, pengabdian yang tanpa batas

Bunda…
Terkadang di saat penatmu
Masih saja kau sempatkan tuk sekedar mendengar berbagai celotehku
Entah itu tentang kesedihanku atau tentang berbagai sukaku
Dengan penuh perhatian dan penuh kasih,
kau dengar setiap kata yang keluar dari mulutku
Dan dengan penuh bijak kau beri berbagai nasehat,
selayaknya orangtua terhadap anak-anaknya
Terkadang kau tersenyum atau bahkan tertawa jika ada kataku yang lucu
Namun tak jarang pula kau akan menegurku,
bila yang kau dengar hal yang tak sewajarnya

Bunda…
Tak terasa sudah lebih dari 20 tahun kau menemaniku
Walau kadang kita terpisah oleh jarak tempat dimana kita berada
Namun itu tak mengurangi perhatianmu padaku
Dan tak akan pernah pula mengurangi sayangku padamu

Tau kah kau bunda…
Aku selalu kagum padamu
Dengan kesetiaanmu pada suami dan keluargamu
Dengan seluruh cinta yang kau beri pada kami
Dengan tulusnya perhatian dan kasihmu untuk semua
Dengan semua ketabahan, kesabaran, dan keikhlasanmu mendidik kami

Bunda…
Engkau selalu membangunkan kami saat shubuh,
atau memperbaiki letak selimut kami saat kami terlelap di gelapnya malam
Engkau selalu mengingatkan kami agar bersyukur atas semua nikmat-Nya
Dan selalu mengajak kami untuk selalu bangun saat sepertiga malam,
untuk menemui Sang Kekasih Sejati

Bunda…
Salah satu do’aku pada Illahi Rabbi
Agar engkau menjadi salah satu insan yang menghuni jannahNya,
dan dapat menjadi bidadari di dunia serta di akhirat kelak.
Semoga aku pun bisa menjadi sepertimu
Seorang bunda yang penuh cinta, setia, ikhlas dan istiqamah selalu
Aamiin…

Miliki Harga Diri

November 21st, 2006 by srirahayu-83

Apalah artinya punya rumah
lapang kalau hati sempit!? Apalah artinya penampilan yang indah tapi
berhati busuk!? Apalah gunanya harta banyak tapi hati selalu merasa
miskin!? Apalah mamfaatnya segala ada tapi hati selalu nelangsa!?
Apalah artinya makanan enak dan mahal kalau hati sedang dongkol, memang
segala-galanya sangat tergantung kepada hati kita sendiri.

Sayang
seribu sayang kita amat sibuk memperindah rumah, tubuh, penampilan,
tapi tidak pernah sibuk memperindaj qalbu. Kita sibuk memperkaya harta
tapi jarang memperkaya hati, maka tidak usah heran kalau hidup ini
hanya perpindahan dari derita ke sengsara, dari gelisah ke nestapa,
dari resah ke musibah, seperti tiada berujung walaupun sudah mendatangi
tempat manapun, memiliki apapun, memakan segala apapun.

Padahal
Nabi Muhammad SAW bersabda, "Ketahuilah bahwa dalam tubuh ini ada
segumpal daging yang kalau baik maka akan baiklah sekujur tubuhnya,
begitupun kalau buruk maka akan buruklah seluruh sikapnya, itulah yang
dinamakan qalbu" (HR. Bukhari Muslim).

Nah,
saudaraku sekalian, adalah mimpi di siang bolong, kalau kita ingin
merasakan hidup bahagia yang asli tanpa kita mengetahui bagaimana
caranya hidup dengan memelihara qalbu kita ini. Dijamin seratus persen
tidak akan pernah merasakan kebahagiaan maupun kemuliaan tanpa
kesungguhan menata hati ini.

Salah
satu biang busuknya hati kita ini adalah kalau sudah tertipu dalam
mencari harta. Seakan hidup hanya akan terhormat dan terjamin dengan
banyak uang, sehingga tidak peduli lagi halal haramnya. Bagi yang tidak
punya uang pun tidak kalah salahnya, ada sebagian dari kita yang sering
cari jalan pintas, ingin untung besar dengan cara enteng, sehingga
selain tidak berharta juga tidak punya harga diri.

Justru
sering kita saksikan orang jadi hina dan sengsara oleh limpahan harta
dan kedudukannya sendiri yang tentu karena diperolehnya dengan cara
yang tidak benar.

Sepatutnya
kalau harta kita tidak banyak maka perkayalah batin kita sehingga tetap
terhormat, tidak menjadi peminta-minta, atau benalu bagi yang lain
(lihatlah para koruptor, tukang disuap yang malang, sesungguhnya harta
mereka sudah melimpah tapi disiksa dan dihinakan oleh Allah dengan
kemiskinan di hatinya sehingga terus saja meminta-minta, menghisap sana
sini bahkan kepada rakyat kecil sekalipun dengan menggadaikan harga
dirinya, perbuatan ini sungguh hina dan patut kita kasihani).

Orang
yang rizkinya masih pas-pasan bisa jadi lebih mulia dan terhormat kalau
dapat menjaga harga dirinya. Maka, marilah sekuat tenaga jangan sampai
kita menghinakan diri sebagai peminta-minta, apalagi memeras keringat
orang dengan cara yang tidak halal, sungguh aib. Percayalah rizki dari
Allah sangat melimpah, tidak akan tertukar, lihat kerbau saja yang
tidak sekolah rizkinya tetap tercukupi, apalagi diri kita manusia yang
diberi akal dan iman, niscaya kita akan bertemu dengan rizki dalam
keadaan terhormat.


Marilah
saudaraku kita singsingkan lengan lebih serius, kita simbahkan keringat
kerja keras kita di jalan yang halal, didampingi dengan ibadah dan do’a
kita yang sungguh-sungguh, jangan risaukan cemoohan orang tentang harta
atau rumah kita yang sederhana dan tidak berharga yang penting kita
bisa mewariskan yang termahal bagi keluarga, anak-anak, dan lingkungan
kita yaitu hidup dengan memiliki harga diri, tidak pernah mau hidup
menjadi beban dan benalu bagi orang lain.

Sumber : [JurnalMQ-1/6/1001]

I didn’t Mean To.

November 20th, 2006 by srirahayu-83

Pernahkah suatu kali kita menemui
bahwa ternyata secara tak sengaja telah tersakiti hati orang-orang lain
di sekitar kita. Kita melangkah memulai hari tanpa mengerti bahwa
kemarin, dua hari lalu, atau hari-hari sebelumnya lagi, entah berapa
banyak orang yang tak berkenan dengan apa yang telah kita lakukan.
Walau tanpa sadar, walau tak bermaksud demikian, namun hati yang
terlanjur tersakiti, sulit tuk dipulihkan lagi.
.

Pernahkah kita menyadari bahwa
bisa jadi hari ini kita telah mengecewakan banyak orang? Kita mengira
bahwa hari ini telah dilewati dengan lancar tanpa gangguan dan kita
akhiri hari dengan tidur nyenyak. Namun ternyata tadi pagi, saat kita
lupa mencium tangan orang tua untuk pamit, terbersit sedikit kecewa di
hati mereka. Tadi pagi, saat membayar ongkos bis, kita memberikannya
dengan sodoran yang kasar hingga pak kondektur bis bertambah lelah dan
penatnya bahkan merasa terhina. Tadi pagi, saat masuk ruangan kantor,
kita lupa menyapa dan memberi salam dan senyum pada pak satpam dan
beberapa teman yang sudah datang, hingga yang kita suguhkan hanyalah
wajah lelah sehabis turun naik bis dan kerut kening pertanda banyak
kerjaan kantor yang harus diselesaikan hari itu.

Pernahkah
terpikir oleh kita, bahwa sedikit kesan tak enak yang orang lain
tangkap dari tingkah laku kita, dapat membekas begitu dalam tanpa kita
menyadarinya. Membuat mereka merasa sedih, kecewa, kesal, atau bahkan
marah pada kita. Tanpa kita menyadari, bahwa hari itu telah kita lewati
dengan menyakiti hati begitu banyak orang. Dan saat hati-hati mereka
telah luka, rasanya tak lagi berarti permohonan maaf kita saat kita
ucapkan, "I didn’t mean to…"

Kesalahan yang tak disengaja,
terkadang membuat kita sendiri heran. Kapan ya saya melakukan hal itu?
Benar tidak ya, saya telah bersikap kasar padanya? Ah, saya kan tidak
bermaksud begitu. I didn’t mean to. Dan sekian banyak pemaafan yang
kita ukir untuk diri kita sendiri, tanpa peduli orang tersebut masih
merasakan sakitnya hingga kini.

Tak usahlah lagi alasan itu
dicari. Mari mulai memperbaiki, mulai saat ini. Sebab kita tak pernah
tahu kapan diri kita pernah menyakiti.
<br

Dua Sisi Sifat Manusia

November 14th, 2006 by srirahayu-83

Seorang anak bertanya kepada
ayahnya mengapa dulu dia mudah sekali tersinggung, gampang marah, tidak
tenang, dan selalu punya prasangka buruk terhadap orang lain. Dia ingin
tahu cara mengubah perangainya…

Sang ayah berkata, "Dalam
diri manusia ada dua ‘Penjaga’. Penjaga putih dan Penjaga hitam.
Penjaga hitam selalu berpikiran negatif, mudah marah dan selalu punya
prasangka buruk. Sedang Penjaga putih selalu berpikiran positif, baik
hati, dan suka hidup damai. Setiap hari kedua penjaga ini selalu
berkelahi dalam hati manusia."

"Lalu siapakah yang menang?" tanya si anak.
"Yang
menang adalah yang setiap hari kau beri makan," kata sang ayah. "Sebuah
contoh, saat ujian tiba, penjaga putih akan menyuruh kamu belajar
dengan tekun tetapi sebaliknya penjaga hitam akan menyuruh kamu untuk
menyontek teman sebelah kamu." lanjut sang ayah.

Anak tersebut mengangguk-angguk mendengarkan nasehat ayahnya.

***

Diri
kita adalah apa yang kita pikirkan. Kita akan menjadi seperti apa yang
kita pikirkan tentang diri kita. Mengapa pikiran itu begitu besar
pengaruhnya? Ternyata pikiran-pikiran yang kita masukkan dalam diri
kita akan mempengaruhi perilaku kita sehari-hari, perilaku akan
membentuk sifat, sifat akan membentuk kebiasaan dan kebiasaanlah yang
akan menentukan nasib kita.

Memang nasib manusia berada dan
ditentukan oleh Allah SWT, tetapi manusia juga mempunyai pilihan untuk
menentukan nasibnya sebelum hal itu terjadi. Karena Allah SWT tidak
akan merubah nasib umat-Nya kalau manusia itu sendiri tidak mau
merubahnya.

Jadi mulai saat ini masukkanlah pikiran-pikiran
positif yang bermanfaat dalam diri kita, buanglah jauh-jauh rasa iri
hati, dendam, benci dan pikiran negatif lainnya yang bisa merugikan
kita. Janganlah kita memberi makan kepada "penjaga hitam" yang ada
dalam diri kita.

Kelalaian Yang Menipu

October 12th, 2006 by srirahayu-83

"Telah dekat kepada manusia hari
perhitungan segala amal mereka, sedang mereka ada dalam kelalaian lagi
berpaling (daripadanya)." (QS. Al-Anbiya’ : 1).
Orang yang
memperhatikan keadaan manusia pada zaman sekarang ini akan dapat
melihat betapa tepatnya ayat ini dengan kenyataan yang ada. Mereka
berpaling dari minhaj Allah serta lalai dari urusan akhirat dan tujuan
mereka diciptakan. Mereka merasa seolah-olah tidak diciptakan untuk
beribadah, melainkan untuk bersenang-senang mengikuti hawa nafsunya.
Mereka berfikir tentang dunia, mereka mencintai karena dunia, dan
meraka bekerja demi dunia. Mereka saling bersaing, bermusuhan bahkan
saling membunuh hanya karena dunia.

Itu semua telah
menyebabkan mereka meremehkan dan mengabaikan perintah-perintah
Rabbnya. Bahkan sebagian mereka ada yang sudah berencana untuk
meninggalkan shalat atau menunda hingga akhir waktu karena ada urusan
pekerjaan atau menyaksikan pertandingan, atau karena janji dan lain
sebagainya. Segala sesuatu dalam hidup ini memiliki porsi di hati
mereka. Pekerjaan, perdagangan, olahraga, perjalanan, film-film,
sinetron, lagu dan musik, makan, minum, tidur, dan semuanya memiliki
tempat tersendiri dalam hatinya kecuali Al-Qur’an dan perintah-perintah
agama.

Engkau lihat bahwa salah seorang dari mereka begitu
cerdas dan pandai dalam perkara dunia, akan tetapi si cerdas yang
"miskin" ini tidak dapat mengambil manfaat dari kepandaian dan
kecerdasannya itu pada perkara yang bermanfaat baginya di akhirat
kelak. Kepandaiannya tidak menuntunnya menuju jalan hidayah dan
istiqamah di atas agama Allah yang padahal di sanalah dia akan
mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Sungguh inilah bentuk
terhalangnya seseorang dari merasakan kebahagian hakiki.

Mereka
sibuk mengurusi kenyamanan dan kebahagian fisik mereka di dunia yang
fana dan mereka mengabaikan kebahagiaan dan kenyamanan di akhirat yang
kekal selamanya. Betapa semangatnya mereka mengejar harta. Betapa
seriusnya mereka dalam bekerja. Dan betapa telatennya mereka
memperhatikan kesehatan tubuhnya. Akan tetapi, mempelajari urusan
agama, memahami, mengamalkan, dan berpedoman padanya adalah perkara
yang paling akhir yang dipikirkannya. Itu pun kalau mereka masih punya
sisa waktu dari kesibukannya mengejar dunia.

Waktu mereka
habis tanpa faidah. Bahkan mayoritasnya dihabiskan pada hal yang
diharamkan dan melanggar yang diwajibkan. Mereka melakukannya dengan
dalih mencari kesenangan dan kebahagiaan. Padahal apa yang mereka
lakukan ini sama sekali tidak akan mengantarkan melainkan kepada
kesengsaraan. Sadar atau tidakkah mereka itu dengan firman Allah SWT :
"Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya
baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada
hari kiamat dalam keadaan buta." (QS. Thaha : 124).

Jangan Berlebihan

October 6th, 2006 by srirahayu-83

Hidup ini hanya ujian

Jangan kau bangga pada saat menaklukannya

Dan jangan kau berduka pada saat luput dari tanganmu

Lepaskan beban yang tak sanggup kau memikulnya

Dan biarkan Allah yang menyelesaikan segalanya

Kemarin kau menangis karena masalah menghimpitmu

Namun kini kau mampu tertawa karena terbebas

Hari ini kau bangga menaklukan dunia

Bukan tidak mungkin esok kau berduka karena duniamu terlepas

Bisa jadi hari ini kau tepat mengambil keputusan

Tapi mungkin esok kau salah dalam memutuskan

Saat ini kau benci sesuatu yang menyakitkan

Bisa jadi itu sesuatu yang sangat kau butuhkan

Saat ini kau mencintai sesuatu yang menyenangkan

Bisa jadi itu suatu awal yang menghancurkan

Tertawalah secukupnya karena tawa itu mematikan hati
Bersedihlah secukupnya karena sedih itu melumpuhkan kehidupan

Janganlah berlebih dalam tawa dan kesedihan

Karena diantara keduanya ada ujian dariNya

Kemarin kau dalam masalah dan esoknya Allah membuka jalan
Dan bukan tidak mungkin saat ini pun kau dalam masalah

Maka biarkan Allah yang menyelesaikan segalanya

Dia tidak meminta tanggung jawab diluar kemampuan kita dalam berikhtiar